Kompas.com - 10/10/2017, 08:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Indonesia termasuk dalam negara yang endemis penyakit demam berdarah dengue (DBD). Penyakit dengan gejala mirip flu ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan menderita penyakit DBD.

Data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut, anak berusia 7-12 tahun paling beresiko terkena DBD.

Menurut dr.Leonard Nainggolan Sp.PD-KPTI, anak usia sekolah berada di sekolah sejak pagi hingga siang atau sore hari, yang merupakan waktu aktif nyamuk Aedes aegypti.

"Anak-anak duduk di kelas dari pagi sampai siang, kaki di bawah meja jadi sasaran empuk nyamuk," ujar Leonard dalam acara temu media bertajuk "Nyamuk Makin Bandel, Perkembangan dan Wabah yang Ditimbulkan" di Jakarta (9/10/2017).

Ia menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti menularkan virus dengue ketika menggigit manusia. "Nyamuk ini memang lebih menyukai aroma manusia dan juga warna merah atau hitam," paparnya.

Selain itu, nyamuk ini juga memiliki masa aktif pagi hari mulai dari jam 8-13 dan sore hari mulai dari pukul 15-17. "Karena itu pemakaian kelambu tidak efektif untuk menghindari nyamuk penyebab demam berdarah," kata anggota Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi Indonesia ini.

Pencegahan nyamuk penyebab penyakit perlu dilakukan dengan pendekatan terpadu. Tidak hanya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M (menguras, menutup dan mengubur) yang sekaran dikembangkan menjadi 3M plus , ditambah memodifikasi atau mendaur ulang benda-benda yang menjadi sarang nyamuk menjadi benda lain yang lebih berguna.  

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk pencegahan gigitan nyamuk DB pada anak sekolah, Leonard menyarankan untuk menggunakan pakaian yang tertutup pada saat musim nyamuk berkembang biak.

"Kita bisa meniru Thailand, di wilayah yang penduduknya banyak Muslim, setiap kali musim hujan anak-anak sekolah dianjurkan pakai pakaian tertutup, tangan dan celana panjang agar mengurangi bagian tubuh yang bisa digigit nyamuk. Itu cukup efektif," katanya.

Menurut dr.Widiastuti MKM, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, DKI Jakarta aktif melakukan pengendalian nyamuk dengan melakukan PSN dan 3M, serta melibatkan juru pemantau jentik (Jumantik) di setiap rumah dan sekolah.

"Kita juga ada jumantik di sekolah, sehingga kebiasaannya bisa terbawa sampai rumah. Di sekolah-sekolah juga saat ini tidak disarankan memakai bak mandi untuk mengurangi genangan air," katanya.

Pemberantasan nyamuk dengan pengasapan (fogging) kini tidak direkomendasikan. "Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tetap ada," kata Widia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.