Pasangan Masa Kini Memasang Harapan Tinggi dalam Pernikahan

Kompas.com - 04/12/2017, 11:14 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Orang yang menikah di era modern ini menggantungkan harapan yang tinggi dibanding sebelumnya. Tetapi, ekspektasi yang terlalu tinggi dikhawatirkan bisa merusak kebahagiaan pernikahan.

Beberapa dekade dulu, perkawinan mirip seperti transaksi keuangan dimana orang menikah untuk mencapai status sosial, stabilitas ekonomi, dan juga keamanan.

Tapi, konsep pernikahan modern telah berubah. Pernikahan kini menjadi semacam "era ekspresi diri,". Lebih dari mengharapkan pasangan kita memenuhi kebutuhan dasar akan cinta dan rasa memiliki, tapi banyak orang berharap pasangannya juga membantunya untuk berkembang dan menemukan diri sendiri.

Penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara kualitas hubungan dan kesejahteraan pribadi, yang berarti orang sekarang mengharapkan lebih banyak dari pernikahan mereka daripada sebelumnya.

Dalam beberapa kasus, ekspetasi yang tinggi dapat menyebabkan pernikahan yang lebih bahagia dan sehat. Tapi, jika harapan tersebut hampir tidak mungkin dipenuhi-semisal karena jadwal kerja yang saling bertentangan, waktu yang dihabiskan untuk mengasuh anak, atau stres masalah sehari-hari- ekspetasi yang tidak realistis malah menyebabkan penderitaan.

Hubungan seperti ini disebut "kurangnya nafas" dimana pasangan menginginkan lebih dari hubungan mereka, namun juga memiliki sedikit waktu dan energi untuk memelihara dan memenuhi harapan tersebut.

"Kepuasan pernikahan turun saat harapan tidak sesuai kenyataan," kata James McNulty, PhD, peneliti dan psikolog dari Florida State University.

James McNulty juga mengatakan bahwa bagi beberapa pasangan, turunnya kepuasan dalam pernikahan dapat menurunkan harapan, meskipun bagi beberapa orang justru sebaliknya.

Riset terbaru dari McNulty juga menemukan bahwa pasangan yang memiliki masalah ringan dalam rumah tangganya memiliki harapan akan kebahagiaan yang lebih terpenuhi dari waktu ke waktu.

Penelitian ini dilakukan dengan meneliti hubungan 135 pasangan pengantin baru dari Tennessee, AS, selama empat tahun.

(Baca :8 Kegiatan yang Rutin Dilakukan Pasangan Bahagia)

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X