Kompas.com - 11/12/2017, 19:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Dibanding metode kontrasepsi lainnya, implan atau susuk KB memang kurang populer. Padahal, implan merupakan kontrasepsi jangka panjang yang efektif dengan angka kegagalan rendah.

Menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2015, kontrasepsi yang banyak dipilih adalah kontrasepsi suntik yang mencapai 31,2 persen dan pil mencapai 13,2 persen.

Sedangkan untuk kontrasepsi jangka panjang seperti implan dan IUD (spiral) angkanya masih sangat rendah. Khusus untuk implan, penggunaannya hanya 4,4 persen. Turun dari data tahun 2013 yang mencapai 9 persen.

"Pil dan KB suntik memiliki tingkat kegagalan lebih tinggi karena pil harus diminum setiap hari pada waktu yang sama. Demikian juga dengan KB suntik yang harus diulang sebulan atau tiga bulan sekali," kata dr.Julianto Witjaksono Sp.OG dari Rumah Sakit Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (11/12).

Data WHO menunjukkan, tingkat kegagalan pil KB mencapai 90 per 1000 orang, dan kontrasepsi suntik 60 per 1000 orang. Sementara itu, implan memiliki angka kegagalan 0,5 persen atau yang paling kecil, bahkan dibandingkan dengan KB IUD yang 8,5 orang per 1000 akseptor KB.

Dijelaskan oleh dr.Julianto kontrasepsi implan hanya berisi hormon progestin dan sama sekali tidak mengandung hormon estrogen.

Cara kerja kontrasepsi ini adalah mengentalkan lendir di bibir rahim sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim dan membuahi sel telur. Dengan teknologi tinggi yang dimiliki alat kontrasepsi ini, hormon progestin akan dilepaskan sedikit demi sedikit dari pori-pori batang implan dengan masa kerja 3-5 tahun.

"Cukup sekali pasang untuk 3-5 tahun. Ukurannya juga sangat kecil, sekitar 2 milimeter sehingga pemasangan atau pengambilannya dari bagian lengan tidak dibutuhkan jahitan di kulit," papar dokter yang pernah menjabat sebagai deputi KB di BKKBN ini.

Keunggulan lain dari metode kontrasepsi ini adalah dapat digunakan untuk ibu menyusui dan menurunkan risiko kehamilan di luar kandungan.

Kelemahan dari implan adalah bisa menyebabkan bercak (spot) di luar masa haid atau haid berhenti. "Banyak wanita Indonesia yang tidak suka jika tidak haid karena percaya mitos darah kotor tidak keluar. Padahal, tidak ada darah kotor dalam tubuh. Tidak haid karena hormon progestin menyebabkan dinding rahim tipis sehingga saat luruh hanya sedikit," katanya.

Sementara itu dalam pernyataan tertulisnya, Dr. Ilyas Angsar SpOG, Ketua Kelompok Kerja Keluarga Berencana dan Abortus, Perhimpunan Obstetrik Ginekologi Indonesia (POGI) menambahkan POGI terus mendorong penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang seperti implan KB untuk meningkatkan keberhasilan program KB di Indonesia.

“Program POGI yang sudah berjalan sejak tahun 1990 sampai sekarang adalah bekerja sama dengan BKKBN  dan Kemenkes melaksanakan pelatihan pemasangan dan pencabutan IUD dan implan untuk dokter dan bidan di seluruh provinsi serta pelatihan sterilisasi pada wanita dan pria untuk dokter di seluruh provinsi,” kata Ilyas.

Untuk pemasangan implan, sudah sekitar 50.000 bidan yang dilatih.   


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.