Lelaki Duduk Terlalu Lama? Ini Risiko Berat yang Mengintai... - Kompas.com

Lelaki Duduk Terlalu Lama? Ini Risiko Berat yang Mengintai...

Kompas.com - 18/12/2017, 16:07 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

KOMPAS.com — Apakah tugas harian Anda di kantor hanya duduk di belakang meja?

Tahukah Anda, pekerjaan semacam itu mengundang beragam risiko bagi kesehatan.

Temuan terbaru terkait kondisi semacam ini, khususnya bagi kaum pria, mungkin akan membuat Anda melupakan kemalasan dan mulai bergerak.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Centers for Disease Control and Prevention, para peneliti melihat 4.486 pria dan 1.845 wanita yang menghabiskan waktu hanya dengan duduk.

Penelitian mengarah kepada tingkat obesitas di antara mereka yang berusia 20-79 tahun.

Ukuran yang dipakai adalah lebar pinggang dan persentase lemak pada tubuh mereka.

Nah, tanpa memedulikan ukurannya, ditemukan fakta semakin lama waktu yang dihabiskan pria untuk duduk, semakin besar potensi mereka mengalami obesitas.

Baca juga: Mengapa Obesitas Memicu Penyakit Jantung?

" Pria yang duduk lebih cenderung mengalami obesitas, dan itu pun berpengaruh terhadap level kebugaran mereka."

Demikian dikatakan Carolyn E Barlow, pemimpin tim peneliti di Cooper Institute, Dallas.

"Faktor risiko lain yang kami lihat adalah tingginya kolesterol dan gula darah," kata dia.

Dalam penelitian, para partisipan diminta untuk memberikan laporan terkait 11 aktivitas fisik, temasuk jalan kaki, berlari, dan bersepeda.

Hampir separuh dari jumlah responden pria mengaku menghabiskan tiga perempat waktu dalam sehari untuk duduk.

Sementara hanya ada 13 persen responden perempuan yang mengaku melakukan hal serupa. 

Kendati demikian, ditemukan fakta, perempuan yang duduk dalam periode sedemikian lama pun memiliki level obesitas di bawah kaum lelaki. 

Namun, para peneliti tak mengungkapkan lebih jauh mengenai penyebab tingginya tingkat obesitas pada pria yang tidak beraktivitas tersebut.

Mereka hanya menyebut, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hubungan antara pria yang tidak bergerak dan obesitas.

Barlow mengatakan, salah satu keterbatasan dalam penelitian kali ini adalah adanya mekanisme pelaporan sendiri dari para responden.

Responden melaporkan level aktivitas yang mereka lakukan di sepanjang masa penelitian.

Baca juga: Televisi di Kamar Tidur Picu Risiko Obesitas pada Anak

Di sisi lain, responden yang ambil bagian dalam riset ini pun adalah mereka yang memiliki derajat kesehatan yang baik dan terdidik.

Ada kesulitan bagi tim riset untuk mengaplikasikan temuan dalam studi ini ke dalam populasi warga yang beragam.

"Kami memiliki keterbatasan dalam tingkatan tertentu dengan populasi yang masuk dalam penelitian ini."

"Sebab, umumnya mereka masuk dalam studi ini karena kehendak pribadi atau rujukan dari perusahaan tempat mereka bekerja."

"Padahal, kami sangat ingin melihat, bagaimana perubahan durasi waktu duduk dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko di antara para pasien yang kembali ke klinik," papar Barlow.

Risiko pada kesehatan

Kendati demikian, temuan baru ini telah membangun sebuah jalan yang mampu menghubungkan gaya hidup "tak bergerak" dengan meningkatnya risiko penyakit kronis, bahkan kematian dini.

Baca juga: Obesitas Lebih Membahayakan Dibanding Rokok

Sebelumnya, sebuah studi di jurnal Diabetes Research and Clinical Practice menemukan hubungan antara duduk berkepanjangan dan diabetes tipe 2.

Disebutkan, hal itu dipicu kegagalan tubuh menggunakan atau membuat cukup insulin untuk mengubah gula darah menjadi energi.

Penelitian lain yang dilakukan oleh University Health Network di Toronto menyimpulkan, orang yang duduk terlalu tidak hanya berisiko terkena diabetes, tapi juga penyakit jantung, kanker, dan rentang kehidupan yang lebih pendek.

Orang yang berolahraga berisiko lebih rendah. Namun, para periset mengatakan, aktivitas mereka pun tak sepenuhnya mampu menangkal risiko yang datang karena duduk terlalu lama.

Baca juga: Remaja Pria dengan Obesitas Lebih Berisiko Kanker Liver

Karena itu, memasukkan jadwal "bergerak" di dalam keseharian Anda tentu akan mengurangi waktu yang Anda habiskan untuk duduk.

"Hal itu otomatis akan menurunkan risiko diabetes, penyakit jantung, atau stroke," kata Barlow.

Ulf Ekelund, profesor di Norwegian School of Sports Sciences, mengemukakan dalil. satu jam latihan adalah awal yang baik bagi mereka yang duduk 8 jam sehari.

Apa pun aktivitas dapat dilakukan, mulai dari berjalan kaki di taman ataupun bersepeda ke kantor.

Dengan kata lain, untuk setiap 4 jam duduk, Anda memerlukan latihan minimal 30 menit.

Ekelund mengatakan, aktivitas itu pun tak perlu dilakukan sekaligus, melainkan dapat disebar sebagai selingan di antara waktu duduk di sepanjang hari.  

Baca juga: Obesitas? Lakukan Ini untuk Cegah Penyakit Ginjal


EditorGlori K. Wadrianto
Komentar
Close Ads X