Kompas.com - 05/01/2018, 05:39 WIB
Ilustrasi beramal lovelyday12Ilustrasi beramal

KOMPAS.com - Bersikap baik pada orang lain adalah hal yang harus kita lakukan agar tidak menimbulkan permusuhan. Namun, riset baru menunjukan bahwa beberapa sikap baik bisa berdampak buruk pada diri sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior, orang-orang yang baik- mereka yang peka terhadap ketidakadilan atau ketidaksetaraan sosial - lebih cenderung menunjukkan gejala depresi daripada orang-orang yang cenderung egois.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Masahiko Haruno tersebut meneliti kaitan pola pikir orang-orang yang dianggap pro-sosial - mereka yang rela berkorban demi keadilan dan kesetaraan - dengan gejala klinis depresi jangka panjang.

Percobaan dilakukan dengan meneliti kepribadian 350 orang untuk menentukan apakah mereka masuk kategori 'pro-sosial' atau 'individualis'. Peneliti juga mengukur keinginan orang untuk saling berbagai kepada mereka yang kurang beruntung dari segi keuangan.

Mereka memeriksa otak peserta riset yang telah dikelompokan dalam kategori 'pro-sosial dan 'individualis; menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Hal ini dilakukan untuk melihat area otak mana yang aktif selama situasi tertentu.

Hasilnya, terdapat perbedaan pada gambaran otak pada dua tipe ini. Saat memberikan uang kepada mereka yang kurang beruntung, orang-orang pro-sosial menunjukan aktivitas tinggi di amigdala (wilayah evolusioner otak yang terkait dengan perasaan otomatis, termasuk stres).

Sementara itu, aktivitas amigdala pada tipe individualis meningkatkan hanya jika orang lain menerima lebih banyak uang. Pada bagian hippocamus - daerah otak lainnya yang terlibat dengan respon stres - juga memiliki perbedaan.

Baca : Ini Ciri-ciri Pria Baik, Sulitkah Ditemukan?

Para peneliti kemudian menindaklanjuti temuan ini dengan kuesioner depresi umum yang disebut Inventaris Depresi Beck untuk melihat apakah pola aktivitas otak ini terkait dengan gejala depresi dalam dua minggu sebelumnya.

Hasilnya, pola prososial yang meningkatkan aktivasi otak ini dikaitkan dengan kecenderungan depresi. Hal yang sama juga terjadi pada peserta riset setelah peneliti mengulang kembali riset ini setahun kemudian.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.