Apakah Pakaian 'Netral Gender' adalah Fashion Masa Depan? - Kompas.com

Apakah Pakaian 'Netral Gender' adalah Fashion Masa Depan?

Kompas.com - 09/01/2018, 17:41 WIB
Busana uniseks pertama yang diluncurkan oleh Vinora hadir dalam warna hitam dan putih. KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Busana uniseks pertama yang diluncurkan oleh Vinora hadir dalam warna hitam dan putih.

KOMPAS.com - Lewatlah sudah hari-hari ketika rok hanya untuk wanita dan celana hanya untuk pria.

Pada tahun 2017 lalu, jenis kelamin tidak lagi menentukan cara orang berpakaian. Perancang busana, John Lewis, menggabungkan koleksi pria dan wanita pada dunia fashion.

John Lewis telah menghapus label "girls" dan "boys" pada pakaian anak-anak, dan lebih banyak lagi merek fashion meluncurkan koleksi uniseks atau gender netral, salah satunya adalah label yang terinspirasi streetwear: Wildfang.

Mengikuti jejak H & M (yang mengumumkan lini denim unisex mereka pada bulan Maret), merek ini mencoba menciptakan fashion uniseks.

Proyek terbaru mereka, The Future is Fluid, mencerminkan sikap masyarakat yang berubah seputar ekspresi dan identitas gender.

Koleksi androgini mereka memiliki kombinasi loose fitting suits atau setelan longgar, kaos dan jaket dengan desain untuk semua jenis kelamin.

" Gender adalah konsep yang terbatas," papar CEO Wildfang, Emma McIlroy.

Emma juga menceritakan bahwa secara historis, gender telah menentukan pekerjaan apa yang dapat dilakukan seseorang, bagaimana seseorang harus berperilaku, bagaimana seseorang harus berpakaian, dan sebagainya.

"Itu membatasi kemampuan seseorang untuk benar-benar mengekspresikan diri dan mencapai potensi penuh mereka," paparnya.

Sementara, menurut Emma Mcllroy, pakaian netral gender tidak mengkotak-kotakkan seseorang. Hal ini memungkinkan mereka untuk megekspresikan pilihannya dengan tepat.

Psikolog Dr Christina Richards juga menjelaskan bahwa ideologi progresif Emma McIlroy bisa bermanfaat bila diterapkan pada pakaian anak-anak.

"Inisiatif seperti John Lewis memungkinkan anak untuk mengekspresikan diri sepenuhnya dan menjadi apapun yang dia mau terlepas dari kekangan gender," tambahnya.

Akan tetapi, terapis Gender Dr. Christella Antoni, menekankan pentingnya untuk tetap membuat batas perihal fashion bergender netral ini.

"Ada keuntungan untuk memiliki pakaian uniseks ini. Tapi, hal ini tidak berarti mereka benar-benar mengganti pakaian untuk anak perempuan dan pakaian untuk anak laki-laki," ucapnya.

Dr. Christella Antoni mengungkapkan bahwa dalam konsep pakaian ideal bagi gender di dunia ini harus ada perbedaan pakaian untuk anak perempuan dan pakaian untuk anak laki-laki.

"Salah jika memaksa seorang anak mengenakan pakaian yang menurut mereka tidak sesuai dengan identitas mereka, terlepas itu dari persoalan gender atau tidak. Sedangkan untuk semua hal yang berkaitan dengan gender, masalahnya tidak sederhana," tambahnya.

Dr. Christella Antoni juga mengatakan bahwa masih perlu perjalanan panjang untuk merangkul subversi budaya norma gender ini.

"Wanita selalu lebih mudah untuk melewati stereotip berpakaian daripada pria yang lebih represif," jelasnya.

Ketika model Inggris Agyness Deyn pertama kali masuk dunia fashion pada tahun 2007, dia menjadi model dengan gaya androgini berkat setelan jas dan potongan rambut pirang yang menjadi cirinya.

Banyak editor mode dan fotografer yang tertarik padanya. Hal ini mengantarkannya untuk menjadi model Vogue dan Elle yang melambungkan namanya.

Baru pada tahun 2016 sebuah fenomena terbalik terjadi.

Jaden Smith - anak aktor Hollywood Will Smith - mengenakan rok pada pergelaran busanan kampanye musim semi/musim panas Luis Vuitton. Kini, seluruh selebritis papan atas beralih pada fashion yang mencerminkan 'feminin'.

Ada Harry Styles dalam sepatu Gucci-nya, Zayn Malik dalam blus wanita - bahkan Justin Bieber merupakan salah satu pengguna skinny jeans wanita.

Jika ada gerakan jelas menuju keraguan gender dalam fasion, inilah dia.


EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X