Kompas.com - 20/01/2018, 12:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Memanipulasi foto sudah menjadi bagian dalam hidup semua orang. Bahkan jika Snapchat dan Instagram menghapus fitur filter mereka, bisa jadi platform lain yang mengambil alih fitur tersebut.

Disadari atau tidak, unggahan di media sosial menjadi sarana kompetisi untuk terlihat lebih mewah, membandingkan liburan satu sama lain, memamerkan baju atau makanan, hingga menunjukkan pesona palsu foto mereka yang dipoles menggunakan filter.

Efek kegelisahan

Tidak semua orang mampu menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah gambaran kecil dari realita. Akibatnya, kita akan hidup dalam kesempurnaan semu yang coba diraih. Kita juga akan merasa rendah diri dan tidak puas dengan kehidupan yang dimiliki karena selalu membandingkannya dengan orang lain yang kita lihat di media sosial.

Pada awal tahun, badan kesehatan masyarakat di Inggris merilis #StatusOfMind, laporan tentang dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.

Survei dengan 14 pertanyaan ini dilakukan terhadap 1.500 anak muda berusia 14 hingga 24 tahun. Pertanyaan yang diajukan terkait dengan kondisi mental dan penggunaan YouTube, Snapchat, Facebook, Pinterest, dan Twitter.

Kecuali Youtube, semua platform media sosial tersebut terkait dengan efek kegelisahan dan depresi para penggunanya. Dua media sosial yang paling menonjolkan foto, yaitu Snapchat dan Instagram, dianggap memiliki skor paling rendah dalam hal "kesejahteraan mental". Hal ini terkait dengan "bullying" dan munculnya "fear or missing out" (FOMO).

FOMO adalah fobia yang menjangkit para pengguna media sosial, sehingga mereka takut ketinggalan tren atau berita. Mereka yang suka memantau tagar #thinstagram di Instagram juga mengalami kecemasan soal bentuk tubuh.

Hasil serupa juga ditemukan dari survei yang dilakukan oleh tim dari University of Pittsburgh tahun 2014 dengan responden 1.787 orang berusia 19 hingga 32 tahun.

Mereka yang menggunakan tujuh atau lebih media sosial beresiko mengalami kecemasan dan depresi tiga kali lipat, dibandingkan mereka yang hanya punya dua atau tiga media sosial.

Salah satu cara untuk mencegah efek negatif media sosial tersebut adalah membuat orang menyadari apakah sebuah foto sudah dimanipulasi atau tidak. Misalnya dengan membuat aplikasi dengan fitur khusus yang bisa mengenali mana foto yang diedit.

Di Prancis bahkan sudah dikeluarkan peraturan, semua iklan yang menggunakan foto hasil "editing" harus menyertakan peringatan agar tak ada yang "tertipu".

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Euronews
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.