Kompas.com - 02/02/2018, 07:13 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengetahuan gizi sebagian guru di Indonesia ternyata masih rendah. Masih banyak pengajar yang mengira pedoman gizi yang benar adalah 4 sehat 5 sempurna. Padahal, sejak tahun 2000-an yang digunakan adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS).

Fakta itu terungkap dari hasil survei pelaksanaan program Gerakan Nusantara 2017 yang dilakukan oleh Frisian Flag bekerja sama dengan Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Program Gerakan Nusantara 2017 mengunjungi 24 kota di 8 provinsi untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan, termasuk di dalamnya penjelasan mengenai PGS, sarapan sehat, konsumsi susu, aktivitas luar ruang, dan jajanan sehat.

Selain diberikan kepada 520 siswa SD, program ini juga memberi pembekalan informasi gizi ke 2.132 guru.

"Dari survei sebelum pelatihan ternyata pengetahuan tentang PGS masih rendah. Yang masih muncul adalah 4 sehat 5 sempurna. Gizi seimbang ternyata belum tersosialisasi dengan baik," kata Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, Ahmad Syafiq dalam konferensi pers hasil survei Gerakan Nusantara di Jakarta, Kamis (1/2).

Ahmad menjelaskan, memang ada kesenjangan antar wilayah Indonesia, termasuk status gizi, sikap dan perilaku, serta pengetahuan gizi.

Dari kiri ke kanan: Refa Hayudi, CSR Manager Frisian Flag, Sandra Fikawati, Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, Ahmad Syafiq, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, dan Andrew F Saputro, Corporate Affairs Director PT.Frisian Flag Indonesia.Kompas.com/Lusia Kus Anna Dari kiri ke kanan: Refa Hayudi, CSR Manager Frisian Flag, Sandra Fikawati, Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, Ahmad Syafiq, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, dan Andrew F Saputro, Corporate Affairs Director PT.Frisian Flag Indonesia.
Menurut survei tersebut, responden di Kota Pekanbaru menduduki peringkat terendah dalam pengetahuan gizinya, sementara Kota Salatiga menduduki peringkat tertinggi.

"Tapi perbedaannya tidak signifikan dengan kota-kota lainnya," kata Sandra Fikawati, Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, dalam acara yang sama.

Menurut Fika, kurikulum gizi untuk sekolah dasar di Indonesia memang tidak ada. Ia menduga hal tersebut menjadi penyebab mengapa pengetahuan gizi para guru dan siswa masih rendah.

"Setelah mengikuti program Gerakan Nusantara, ada peningkatan pengetahuan gizi yang signifikan, sampai 23 poin dibanding dari sebelumnya," ujarnya.

Materi tentang pedoman gizi seimbang, kebutuhan air dan konsumsi buah, mengalami peningkatan poin pemahaman yang tertinggi. Survei dilakukan tiga bulan setelah pemberian informasi gizi.

Menurut penjelasan Refa Hayudi Griyanda, CSR Manager PT Frisian Flag Indonesia, Program Gerakan Nusantara sudah berjalan sejak tahun 2013. Jika sebelumnya hanya dilakukan pada anak-anak usia sekolah dasar, tahun 2017 programnya diperluas kepada para guru.

"Melalui pembekalan ini guru-guru bisa menjadi duta gizi. Hasil evaluasi kami menunjukkan membaiknya pengetahuan mereka tentang gizi," kata Refa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.