Kompas.com - 02/02/2018, 07:17 WIB
Ilustrasi makanan sehat MartininaIlustrasi makanan sehat
EditorWisnubrata

Diet sesuai DNA ini dirancang sedemikian rupa sehingga hampir setara dengan menu makanan yang umum.

Di antaranya adalah makanan barat yang kebanyakan menu Amerika, makanan Mediterania, makanan Jepang, dan makanan diet Maasai (Afrika bagian timur) atau mirip dengan diet ketogenik.

Jika ingin dijabarkan lebih dalam, diet menu Amerika merupakan makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat olahan. Diet Mediterania lebih menonjolkan makanan tinggi serat, termasuk ekstrak anggur merah.

Sedangkan makanan Jepang terdiri dari ekstrak teh hijau dan nasi. Terakhir, diet makanan ketogenik merupakan makanan yang tinggi lemak dan protein, tapi hanya sedikit sekali karbohidratnya.

Barrington, salah satu periset dari penelitian tersebut, mencoba menggabungkan kandungan serat dan senyawa bioaktif yang dianggap penting dalam uji coba ini.

Tidak lupa juga, tim peneliti memantau kesehatan kardiometabolik tikus, mengukur tekanan darah, gula darah, kadar kolesterol, dan melihat tanda-tanda adanya perlemakan hati.

Tingkat aktivitas fisik para tikus juga dipantau. Begitu pula dengan nafsu makan tikus serta asupan makanannya.

Lalu bagaimana hasilnya?

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 3 dari 4 diet sesuai DNA ini bekerja baik untuk kebanyakan tikus. Akan tetapi, tikus dengan rantai genetik keempat tidak merespon pola makan Jepang dengan baik.

Tikus-tikus dengan dua jenis rantai genetik merespons diet ketogenik dengan sangat baik, sedangkan tikus-tikus dengan dua jenis rantai genetik lainnya tidak cocok menjalani diet kegotenik.

Menurut Barrington, “Yang satu jadi obesitas dan mengalami kenaikan kolesterol serta perlemakan hati. Satunya lagi jadi lebih lemas dan cenderung tidak mau beraktivitas fisik, meskipun tubuhnya masih tetap ramping.”

Barrington juga menjelaskan, bahwa ini sama saja dengan yang disebut  “kurus tapi berlemak” pada manusia. Di mana seseorang terlihat memiliki berat badan yang sehat tapi sebenarnya memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi.

Peneliti mengharapkan dengan adanya penelitian awal ini, akan muncul ilmu baru lagi terkait pola diet berbeda yang bisa diterapkan di masing-masing orang juga. Makanan, diet, ataupun olahraga yang dilakukan juga akan disesuaikan dengan genetik masing-masing.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.