Seberapa Efektif Masker Melindungi dari Bahaya Polusi Udara? - Kompas.com

Seberapa Efektif Masker Melindungi dari Bahaya Polusi Udara?

Kompas.com - 05/02/2018, 10:15 WIB
Kendaraan terjebak macet di Jalan Dewi Sartika, Depok, Rabu (26/4). Kemacetan lalu lintas menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi Kota Depok pada usianya ke-18. Kepadatan lalu lintas tersebut imbas dari tumbuhnya permukiman, penduduk, dan kendaraan bermotor yang cukup pesat di kota ini. KOMPAS/HERU SRI KUMORO Kendaraan terjebak macet di Jalan Dewi Sartika, Depok, Rabu (26/4). Kemacetan lalu lintas menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi Kota Depok pada usianya ke-18. Kepadatan lalu lintas tersebut imbas dari tumbuhnya permukiman, penduduk, dan kendaraan bermotor yang cukup pesat di kota ini.

KOMPAS.com - Polusi udara adalah ancaman kesehatan di banyak negara. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 6,5 juta kematian setiap tahun terkait dengan polusi udara. Bahkan, 9 dari 10 orang di seluruh dunia tinggal di kota yang udaranya tidak bersih bagi manusia.

Masih menurut data WHO tahun 2016, kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung merupakan dua kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara.

Kualitas udara yang buruk semakin diperparah dengan banyaknya masyarakat komuter (penglaju) yang menggunakan kendaraan bermotor untuk beraktivitas dari dan ke Jakarta.

Dari sejumlah 1,4 juta masyarakat penglaju dari dan keluar Jakarta, terdapat 58 persen menggunakan kendaraan roda dua dan 30 persen menggunakan transportasi umum.

Sebagian besar dari mereka terpapar gas buang kendaraan dan bau tidak sedap, khususnya di lokasi yang padat kendaraan dan macet.

Pada semester satu tahun 2016, level polusi di kota-kota besar Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 4,5 kali lipat lebih buruk dari standar yang ditetapkan oleh WHO.

Menurut Ed Avol, profesor bidang pencegahan penyakit dari Universitas Southern California, melakukan jalan dengan cepat bisa membantu mengurangi paparan polusi di jalanan yang sibuk.

Bus transjakarta Tanah Abang Explorer melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jumat (2/2/2018). Bus itu dialihkan setelah operasionalnya dihentikan sementara di Tanah Abang menyusul aksi mogok sopir angkot.KOMPAS.com/NURSITA SARI Bus transjakarta Tanah Abang Explorer melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jumat (2/2/2018). Bus itu dialihkan setelah operasionalnya dihentikan sementara di Tanah Abang menyusul aksi mogok sopir angkot.
Ia mengatakan, di kota yang tingkat polusi udaranya buruk, tempat terbaik adalah di dalam ruangan, dengan pendingin ruangan yang bisa menyaring udara.

"Hindari aktivitas yang membuat kita menarik napas berat. Bayangkan diri kita adalah penyedot debu atau vacuum cleaner besar. Kita harus mengecilkan pengaturannya," kata Avol seperti dikutip dari Huffington Post.

Di kota seperti Beijing, China, masker wajah seringkali tidak efektif mencegah efek polusi, kecuali jika maskernya cukup ketat menutupi bagian hidung dan mulut.

"Masker bedah yang murah atau menutupi dengan sapu tangan tidak bisa melindungi diri karena udara dengan mudah akan masuk saat kita bernapas," kata Avol.

Masker yang lebih mahal seperti masker N95 paling efektif melindungi karena bisa menyaring sampai 95 persen partikel udara. Namun, masker ini kurang praktis jika dipakai sehari-hari.

Jenis masker lain yang cukup efektif adalah masker dengan lapisan karbon aktif yang bisa memberi perlindungan lebih.


EditorLusia Kus Anna
Close Ads X