Kompas.com - 26/02/2018, 11:07 WIB
Ilustrasi sedih dan tidak bahagia Tim GouwIlustrasi sedih dan tidak bahagia

KOMPAS.com - Memiliki pola pikir positif dianggap sebagai kunci untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan. Disebut juga dengan optimis,  sikap mental ini sangat membantu mengatasi rintangan dan situasi sulit yang rasanya tak mungkin dilalui.

Ya, menjadi optimis memang baik. Walau begitu, sikap sebaliknya, yaitu pesimis juga tak perlu dihilangkan sama sekali.

Selama ini, sikap pesimis dikenal sebagai hal yang negatif. Pemilik sikap ini dianggap sudah kehilangan harapan dan menentukan target rendah. Orang pesimis juga cenderung mengambil tindakan yang mementingkan diri sendiri.

Sebagai contoh, jika seorang pesimis mencoba mencari jalan pintas, mereka akan bereaksi seolah pengemudi lain akan merebut jalan tersebut.

Para ahli psikologi menemukan salah satu jenis sikap pesimis baru, yang disebut pesimisme defensif. Sikap ini menggunakan pemikiran negatif untuk  mencapai tujuan.

Sikap pesimis defensif ini membuat kita fokus pada hasil akhir, atau apa yang kita harapkan di masa depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

(Baca :Sifat "Pemalas" Ternyata Berdampak Positif bagi Lingkungan)

Jika sikap optimis mengharapkan hasil yang positif lebih sering dari yang negatif, maka sikap pesimis mengharapkan hasil yang negatif mungkin yang lebih sering terjadi.

Salah satu contoh adalah bersikap pesimis kita tidak akan diterima setelah wawancara kerja. Kemudian kita visualisasikan rasa pesimis itu secara detail, termasuk skenario buruk yang mungkin terjadi. Kondisi ini memicu rasa defensif sehingga kita menyiapkan tindakan agar skenario itu tidak terjadi. Misalnya berlatih wawancara atau tiba tepat waktu.

Setiap mood negatif yang muncul juga bisa menjadi pemacu kita untuk memiliki performa lebih baik.

Sikap pesimis juga terkadang lebih menguntungkan saat kita sedang menanti kabar, dibanding orang yang optimis. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, rasa kecewanya tidak sebesar jika kita sudah terlalu yakin. Hal ini berlaku pada hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Perbedaan antara orang yang memiliki sikap pesimis defensif dengan berpikir negatif adalah cara mereka mengatasinya. Jika kita biasanya menghindar dari hal yang sudah diantisipasi, maka pesimis defensif menggunakan harapan negatif mereka sebagai motivasi untuk mengambil kendali.

 

 

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Techtimes
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.