Kompas.com - 26/02/2018, 16:00 WIB
Ilustrasi. ThinkstockIlustrasi.

KOMPAS.com - Kehilangan seseorang yang kita cintai, entah karena putus hubungan atau ditinggal meninggal, tak hanya berakibat pada patah hati, tapi juga pada perubahan fisik yang memicu masalah kesehatan jantung.

Riset terbaru menemukan bahwa kehilangan orang tercinta karena kematian, meningkatkan risiko terjadinya atrial fibrillasi atau denyut jantung tidak teratur, dan efeknya bertahan.

Periset telah lama memperlajari fenomena yang disebut stres kardiomiopati atau sindrom patah hati. Sindrom ini mengakibatkan seseorang yang mengalami stres berat, semisal karena pasangan meninggal dunia, mengalami gejala yang mirip seperti serangan jantung.

Gejalanya termasuk sesak napas dan nyeri dada, tapi tanpa ada penyumbatan pembuluh darah. Para ahli menduga bahwa adanya gelombang hormon stres yang dipicu peristiwa emosional bisa menjadi penyebabnya.

Dalam studi baru yang diterbitkan dalam the journal Opern heart, para peneliti menyimpulkan bahwa kehilangan pasangan juga dapat berkontribusi pada risiko atrial fibrilasi (denyut jantung tak teratur dan menyebabkan aliran darah tak lancar).

(Baca juga :Benarkah Patah Hati Bisa "Sembuh" dalam 11 Minggu?)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Periset menganalisis 88.600 orang Denmark yang didiagnosis menderita artrial fibrilasi. Periset menemukan bahwa orang yang kehilangan pasangannya 41 persen lebih berisiko mengalami artrial fibrilasi pada bulan pertama setelah kehilangan pasangannya. Celakanya, kondisi ini berlanjut selama setahun.

Peneliti juga menukan bahwa risiko artrial fibrilasi ini juga tinggi pada orang muda dan pada orang-orang yang pasangannya meninggal secara tak terduga.

"Sindrom patah hati adalah penyakit yang berbeda dengan keseluruhan patologi lainnya, namun beberapa mekanisme patofisiologis mungkin sama. Seperti lonjakan hormon yang memfasilitasi peradangan dan ketidakseimbangan di bagian sistem saraf pusat kita yang tidak terkendali," tambahnya.

Harmony Reynolds, seorang ahli jantung di NYU Langone Medical Center mengatakan, kita memang tidak bisa mengendalikan kematian atau kemunculan stres. Tetapi, ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah cara stres memengaruhi tubuh kita.

"Beberapa hal dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis, seperti olahraga teratur, meditasi, yoga dan pernapasan dalam," kata Reynolds.

Terkadang kondisi jantung tidak cuma dipengaruhi oleh kesedihan, tapi situasi emosional lainnya, seperti kegembiraan yang bisa menandingi kemenangan olahraga besar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.