Kompas.com - 14/03/2018, 05:12 WIB
Editor Wisnubrata

Pada pria, gangguan saraf bisa tercermin pada kerja sistem reproduksinya yang menghambat aktivitas testosteron. Kekurangan testosteron dapat menyebabkan pria kurang berstamina, mengalami impotensi (disfungsi ereksi), hingga penurunan massa otot.

Baca juga : Tak Semua Orang Butuh Deodoran

Namun yang perlu dipahami, sampai saat ini penelitian masih dilakukan pada hewan lab. Tetap diperlukan penelitian lebih lanjut secara mendalam untuk benar-benar memastikan apakah deodoran bisa menjadi penyebab tunggal dari masalah pada sistem reproduksi pria.

Meski kecurigaan bahaya deodoran sebagai penyebab impotensi belum benar-benar terbukti, menggunakan deodoran setiap hari nyatanya juga tidak baik.

Penelitian milik Anne Steinemann, Ph.D., seorang profesor teknik sipil di University of Melbourne di Australia, menyebutkan bahwa ada berbagai risiko kesehatan yang bisa diakibatkan oleh zat pewangi pada produk pengharum tubuh tersebut, seperti masalah pada pernapasan, serangan asma, sakit kepala, migrain, ruam, mual, dan berbagai masalah fisik lainnya.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan di tahun 2014 menemukan bahwa deodoran ataupun antiperspirant memiliki tingkat actinobacteria yang lebih tinggi, yaitu salah satu bakteri yang menyebabkan ketiak berbau tidak sedap.

Beberapa orang yang dijadikan subjek penelitian menyatakan bahwa penggunaan deodoran atau antiperspirant dalam jangka panjang justru dapat membuat bau ketiak lebih terasa tidak sedap ketimbang saat tidak memakai deodoran.

Hal ini kemungkinan besar dipicu oleh kandungan alumunium dalam deodoran yang bekerja menyumbat kelenjar keringat sehingga memerangkap bakteri di dalamnya.

Untuk menekan risiko bahaya deodoran atau mencegahnya sama sekali, kita perlu membatasi frekuensi penggunaannya dan ganti produk deodoran berpewangi dengan yang tidak mengandung parfum. Jika tidak merasa percaya diri untuk keluar rumah tanpa memakai deodoran dulu, kamu bisa menyiasatinya dengan menggunakan deodoran berbahan alami.

Selain itu, biasakan untuk melihat label kemasan sebelum Anda membelinya. Walaupun tidak semua produk secara transparan mencantumkan keseluruhan komposisi penyusunnya, tetapi setelah mengetahui daftar zat berbahaya yang ada dalam deodoran, hindari membeli produk yang mengandung bahan-bahan berbahaya untuk meminimalisir efek samping pada kesehatan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.