Perlukah Ikut Tren Memakai Pembersih Miss V? - Kompas.com

Perlukah Ikut Tren Memakai Pembersih Miss V?

Kompas.com - 14/03/2018, 21:49 WIB
Ilustrasi Miss VBarabasa Ilustrasi Miss V

Oleh: Deborah Bateson

Kita menemukan begitu banyak produk yang disebut pembersih vagina yang menawarkan bantuan untuk menghilangkan “bau vagina” dan keputihan, dan menjaga bagian intim itu tetap segar.

Dari deodoran hingga membersihkan dengan ketimun, panty liners beraroma, dan tren terbaru “menguapi vagina” atau ratus vagina.

Produk-produk ini secara aktif mempromosikan pandangan bahwa vagina perempuan harus bebas dari keputihan dan tidak berbau, atau menguarkan aroma kelopak mawar atau vanili.

Menurut Deborah Bateson, pengajar dan ginekolog dari University of Sydney, banyak perempuan menganggap keputihan sebagai hal yang tidak diinginkan dan tidak alami, padahal itu fisiologis dan normal.

Data menunjukkan sekitar setengah perempuan menggunakan “panty liner” untuk menyerap keputihan, dengan hampir 30% menggunakannya sehari-hari.

Walau banyak perempuan secara umum bukan penggemar berat “douching”, istilah bahasa Prancis untuk membersihkan vagina dengan semprotan cairan, tetapi tetap penting untuk memahami mengapa membersihkan vagina tidaklah disarankan.

Apa sih keputihan, dan mengapa itu penting?

Vagina membersihkan dirinya sendiri, dan keputihan berperan penting dalam menjaga kesehatan vagina. Sejak pubertas, ketika estrogen diproduksi, vagina dikolonisasi oleh bakteri sehat dari kelompok Lactobacillus yang memproduksi asam laktat.

Ekosistem vagina yang berlangsung seimbang disebut sebagai mikrobioma vagina dan keasaman vagina yang dihasilkan memberi proteksi terhadap infeksi yang ditransmisikan melalui hubungan seksual.

Keputihan yang sehat berasal dari cairan dari dinding vagina, mukus dari serviks serta lactobacilli, dan karena lingkungan vagina terpengaruh secara hormonal, jangan heran dengan perbedaan volume keputihan sepanjang bulan, ini benar-benar normal.

Selain memberikan lingkungan yang protektif, keputihan menyediakan lubrikasi alami dengan sekitar 1 sampai 4 ml cairan diproduksi tiap 24 jam.

Keputihan yang sehat memiliki ciri khas aroma—dan pada beberapa perempuan aromanya mungkin lebih kuat dikarenakan banyaknya kelenjar keringat di daerah rambut pubis. Jadi meski membersihkan bagian dalam vagina tidak disarankan, tapi penting untuk menjaga kulit bagian luarnya bersih.

Gangguan pada lingkungan vagina sehat

Apa pun yang dimasukkan ke vagina berpotensi mengganggu lingkungan vagina dan keseimbangan flora vagina, termasuk tampon, penis, kondom, cairan sperma, jari, dan mainan seks bahkan yang bersih. Dalam hal ini, gangguan hampir selalu bersifat sementara dan vagina segera memperbaiki dirinya sendiri.

Ilustrasi pembalut untuk menjaga kebersihan vaginaiamnoonmai Ilustrasi pembalut untuk menjaga kebersihan vagina
Namun tidak demikian halnya soal produk pembersih vagina, atau douching berulang. Cairan pembersih buatan sendiri biasanya mengandung air dan cuka, dan produk komersil mengandung antiseptik dan wewangian yang bisa mengurangi lactobacilli serta mengurangi efek protektif keputihan.

Di Indonesia sendiri ratus vagina tidaklah baru, tetapi di Australia “perawatan Miss V” dengan penguapan tersebut adalah cara yang baru.

Terlepas dari risiko terbakar dan melepuh, ada banyak alasan untuk tidak melakukan penguapan vagina. Tidak hanya uap memiliki efek mengeringkan pada vagina, tapi juga bisa mengganggu mikrobioma vagina dan mengurangi pelindung alami tubuh melawan infeksi.

Sementara uap sebenarnya tidak akan mencapai rahim, menyemprotkan uap herbal panas ke dalam organ penting ini tidak bemanfaat dan justru bisa berbahaya. Pastinya tidak ada manfaat dari pengobatan pseudo-ilmiah ini terhadap kadar hormon perempuan.

Kapan perlu mencari pertolongan medis

Meski keputihan memang normal, sebaiknya mencari pertolongan medis bila mengalami perubahan signifkan dalam volume, warna, atau bau keputihan.

Perubahan pada keputihan bisa merupakan tanda infeksi, meski sebagian besar infeksi menular seksual (IMS) termasuk klamidia dan gonorea, biasanya tidak menyebabkan perubahan pada keputihan.

Penyebab yang paling sering yakni Candida (sariawan vagina) atau bacterial vaginosis (BV) yang terjadi ketika flora vagina dikolonisasi berlebihan oleh jamur (Candida) atau bakteri vagina lain.

BV adalah kondisi di mana vagina tidak dapat mengembalikan kondisi normalnya dan menjadi lebih basa. Alkalinitas dari darah mens bisa berhubungan dengan BV.

Lactobacilli berkurang dan digantikan oleh bakteri vagina lain yang bisa dikaitkan dengan peningkatan keputihan kehijauan-kelabu dan bau tidak sedap.

Meski kondisi ini tidak dianggap berbahaya, bagi perempuan yang hidup dengan BV, memiliki keputihan yang persisten dan berbau tak sedap bisa merisaukan dan sebaiknya ke dokter untuk mendiskusikan bagaimana mengatasi kondisi tersebut.

Deborah Bateson adalah Clinical Associate Professor, Discipline of Obstetrics, Gynaecology and Neonatology, University of Sydney

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation


Sumber
Komentar
Close Ads X