Kompas.com - 29/03/2018, 11:42 WIB
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih banyak anak muda yang enggan memakai busana dengan kain tradisional dengan sejumlah alasan, misalnya karena dianggap terlalu formal.

Meski begitu, saat ini sudah ada sejumlah anak muda yang mau dan senang memakai busana dengan kain tradisional di kesehariannya.

Jadi, sebenarnya faktor apa saja yang membuat anak muda mau memakai kain tradisional?

Desainer Ivan Gunawan menyoroti faktor harga dari kain tradisional yang bisa mencapai jutaan rupiah per lembarnya.

Model memeragakan busana rancangan Yogiswari Prajanti dengan tema Colourful Journey saat Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Indonesia Fashion Week 2018 mengusung tema Cultural Identity dan fokus mengangkat fesyen dari tiga destinasi wisata terkenal di Indonesia, yaitu Danau Toba di tanah Batak, Borobudur di Jawa Tengah dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Model memeragakan busana rancangan Yogiswari Prajanti dengan tema Colourful Journey saat Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Indonesia Fashion Week 2018 mengusung tema Cultural Identity dan fokus mengangkat fesyen dari tiga destinasi wisata terkenal di Indonesia, yaitu Danau Toba di tanah Batak, Borobudur di Jawa Tengah dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.
Namun, ia melihat saat ini sudah semakin banyak label yang membuat busana dengan kain tradisional yang harganya terjangkau.

"Contohnya batik. Dengan brand-brand yang semakin banyak, harganya terjangkau jadi konsumen muda enggak harus beli batik yang selembarnya jutaan rupiah. Bisa beli batik dengan kantong sendiri," ujar Ivan seusai parade peragaan busana di Indonesia Fashion Week 2018, Rabu (28/3/2018) kemarin.

Ivan kemudian menyinggung teknik cetak Ulos yang digunakan desainer Ghea Panggabean untuk koleksi busana bertema budaya Batak Toba di IFW 2018.

Pilihan tersebut bisa menjadi salah satu cara menekan harga kain.

"Dimana kalau kain Ulos selembarnya Rp 2,5 juta kalau sudah diprint bisa jadi Rp 300-400 ribu. Bisa lebih memasyarakat," kata Ivan.

Ivan memahami jika teknik cetak tersebut menyakiti hati pengrajin kain tradisional. Namun, faktor harga menurutnya memang perlu dipertimbangkan jika ingin sebuah produk memiliki perputaran ekonomi yng cepat.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.