DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Kalau Bukan Tubuhnya Kerdil, Umurnya yang Kerdil

Kompas.com - 05/04/2018, 20:06 WIB
Ilustrasi jantung NikuwkaIlustrasi jantung

Demi gengsi, makan pun asal kenyang

Begitu miskinnya konten pangan, hingga makanan instan di negri orang lain yang digunakan sebagai pangan rekreasi sesekali, tapi menjadi pangan rutin bahkan wajib entah untuk sarapan atau ‘pangan praktis gaya kos-kosan’ di negeri ini.

Begitu miskinnya pula konten pangan yang apabila dijumlah besarnya pengeluaran jauh lebih kecil ketimbang pengeluaran lain yang hanya sekadar menampilkan gengsi atau pemuas komunikasi, mulai dari rokok, asesori, hingga pulsa ponsel.

Bahkan dalam demo buruh pabrik, tuntutan kocak yang muncul justru tambahan gaji demi parfum. Bukan perbaikan kualitas pangan. Di negri ini, pangan masih sebatas asal kenyang. Bukan bicara soal kesehatan.

Apakah bisa dibayangkan, betapa nelangsanya anak-anak yang lahir dari orangtua yang belum jelas menata hidupnya? Jangankan bicara pola asuh, mengasuh dirinya sendiri pun para (calon) orangtua ini masih galau.

[Baca juga : Gizi, Vaksinasi, Edukasi: Tiga Pilar Membangun Generasi ]

Sebegitu galaunya hingga melampiaskan rasa marah dan kecewa justru dengan menyiksa bayi yang darah dagingnya sendiri. Begitu ngerinya potret kekerasan terhadap kelompok usia yang masih begitu dini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jangankan memberi Air Susu Ibu dengan tekun dan telaten selama 6 bulan penuh, yang dilanjut hingga anaknya berusia 2 tahun – para ‘mahmud’ alias mamah muda ini mengenal istilah telaten, gigih dan tekun saja belum tentu.

Sepanjang usia remaja dan masa mudanya, mereka membombardir kenikmatan hedonisme tubuh tanpa bicara apa yang sebenarnya mereka butuh.

Mulai dari punya uang jajan yang dihabiskan untuk makan (jangan bicara ditabung buat masa depan) hingga punya tubuh molek yang ikhlas dicolek.

[Baca juga : Anti Tradisi, Kini Harajuku Panganku ]

Konsekuensi janin tumbuh dalam tubuh yang tidak siap, menghadirkan bayi yang juga tidak siap menghadapi masa depannya yang jauh lebih menantang ketimbang anak-anak lain.

Saat otak ibunya didera iklan, si bayi terpaksa menelan apapun yang diberikan. Gagal tumbuh membuat orangtua sudah mematikan beberapa cita-citanya. Minimal gagal menjadi perwira, pilot dan pramugari, jika diandaikan masih bisa jadi peragawati di ajang peragaan busana “anti mainstream”.

Jika organisasi kesehatan dunia menggariskan angka 20% sebagai batas bahaya populasi stunting di suatu negara, maka artinya cukuplah tidak lebih 1 anak pendek dari 5 anak dengan umur sebaya.

Tapi Indonesia saat ini terdapat 1 anak pendek dari 3 anak yang kita jumpai setiap harinya. Pendek bukan hanya postur tubuhnya, tapi juga kemampuan berpikirnya.

[Baca juga : Kebiasaan Salah Menuai Sekian Masalah ]

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.