Kompas.com - 19/04/2018, 09:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Akhir minggu kemarin saya sungguh menikmati ‘hiburan miris’ yang membuat orang tak henti tertawa seputar kisruhnya soal ujian nasional berbasis komputer yang diakui ‘agak sulit’ oleh menterinya sendiri.

Dituding bahwa pelajar kita mempunyai logika dan pemahaman rendah seputar matematika, bahasa dan sains membuat banyak pakar gelisah soal masa depan bangsa ini.

Sebetulnya, tanpa informasi hasil tes pun, kita sudah selayaknya gelisah – melihat begitu banyak fenomena anomali di negri ini.

Sebut saja mulai dari orang-orang bermotor melawan arus, yang ditilang malah berbalik menyentak galak.

[Baca juga : Kalau Bukan Tubuhnya Kerdil, Umurnya yang Kerdil]

Bukan dokter, tidak pernah sekolah jadi dokter, tapi menasihatkan berbagai upaya melawan penyakit hingga viral di media sosial. Bahkan, ada yang tega mencatut bawa-bawa nama dokternya, tapi disisipi ajaran pribadi si penulis info cara kilat jadi sehat.

Jika Presiden dan semua jajaran kementerian heboh mencari terobosan pencegahan kekerdilan anak akibat gizi dari masa janin hingga usia dua tahun, yang berakibat pada rendahnya kecerdasan di kemudian hari.

Saya malah bertanya-tanya: yang tinggi badannya normal saja kok nampak banyak yang tidak cerdas ya? Kelihatannya ingin menghemat waktu dan bensin, tapi melawan arus lalu lintas.

Kelihatannya ingin berbagi soal gaya hidup sehat, tapi gagal fokus, karena yang dihujat hanya urusan nasi – padahal menghindari nasi bukan otomatis umur makin panjang.

[Baca juga : Gizi, Vaksinasi, Edukasi: Tiga Pilar Membangun Generasi]

Ada yang salah dan kurang dengan pemahaman secara utuh dan nalar komprehensif sebagian besar publik kita.

Barangkali, karena aspek hafalan yang terlalu banyak merusak otak pelajar sejak di Sekolah Dasar.

Seorang kawan baru saja ‘curhat’ bahwa buku ajar anaknya yang duduk di bangku SD berisi gambar contoh sarapan sehat dengan menu sandwich dan susu. Entah siapa yang mengarang isi buku tersebut dan acuannya apa. Tidak heran, roti laris di negri ini untuk sarapan.

Begitu disebut roti berasal dari produk rafinasi bernama tepung terigu, beraneka reaksi muncul. Seperti normalitas yang terusik. Bagai mengaduk pasir dalam kolam.

Lalu muncul pembenaran bernama roti gandum. Padahal, meminjam nama gandumnya tidak otomatis roti menjadi lebih sehat.

Gandum utuh seperti yang dianjurkan banyak lembaga kesehatan asing tidak pernah ada di bumi Indonesia.

Kejadian ini mirip dengan yang ditulis Marion Nestle dalam bukunya “Food Politics”. Ketika Amerika ricuh saat ada yang berupaya menyisipkan saus tomat sebagai ‘bagian dari sayuran’ dalam program makan siang sekolah negeri zaman pemerintahan Reagan.

Dalam kondisi hiruk pikuknya informasi dan tunggang langgangnya berita, untuk mendudukkan pikiran dan memahami segala sesuatunya secara mendalam, membutuhkan upaya besar yang belum tentu dimiliki semua orang.

[Baca juga : Mengapa Banyak Orang Sangat Suka Bakso?]

Jika diamati, tayangan-tayangan berupa info grafis yang menampilkan gambar-gambar menarik mata dengan sedikit tulisan lebih laris dilihat, ketimbang mata lelah menelusuri kalimat-kalimat panjang seperti tulisan ini.

Kecenderungan untuk belajar dengan info grafis sebetulnya sudah memberi indikasi, pertanda – tentang kedalaman mencerna.

Tak heran istilah ‘gagal fokus’ dan ‘gagal paham’ kian sering didengar. Tujuan kunjungan kerja Presiden untuk mencegah berlanjutnya kasus stunting di Sukabumi hanya dimuat dalam satu kolom artikel di berbagai media cetak maupun online.

Sementara, banyak artikel justru mengangkat isu sampingan, bahkan tidak penting – mulai dari jaket yang dipakai Presiden hingga perjalanan motor antiknya.

Gagal fokus akan urgensi dan esensi suatu masalah, membuat bangsa ini seakan-akan hidup sudah makmur sejahtera tanpa panggilan untuk bertindak demi suatu perubahan.

[Baca juga : Papua, Mereka Dimiskinkan di Tanah yang Kaya]

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.