Kompas.com - 22/04/2018, 13:15 WIB
Ketupat sayur santan seperti ini bisa meningkatkan kolesterol dan timbunan lemak. Coba saja mengganti beras putih di ketupat dengan beras merah. Kompas/PriyambodoKetupat sayur santan seperti ini bisa meningkatkan kolesterol dan timbunan lemak. Coba saja mengganti beras putih di ketupat dengan beras merah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pentingnya sarapan sebagai waktu makan terbaik sudah dipahami mayoritas masyarakat di 11 negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hanya saja, menu sarapan orang Indonesia masih didominasi oleh karbohidrat.

Menurut survei, 88 persen masyarakat Indonesia melakukan sarapan di rumah. Hanya 4 persen yang tidak melakukan sarapan.

Sementara 5 persennya menyantap sarapan di tempat kerja dan 3 persennya di jalan menuju tempat kerja.

"Kami bangga mengetahui bahwa mayoritas masyarakat di Asia Pasifik termasuk di Indonesia memahami pentingnya sarapan setiap harinya," kata Senior Director & General Manager Herbalife Andam Dewi di Hotel Mulia Senayan, Rabu (18/4/2018).

Namun, survei juga menunjukkan bahwa sarapan yang dikonsumsi orang Indonesia masih belum memenuhi nutrisi yang seimbang.

Porsi karbohidrat pada saat sarapan disebut masih terlalu banyak.

Menurut survei, 40 persen konsumen Indonesia menganggap karbohidrat sebagai nutrisi penting dalam sarapan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Faktanya, masih banyak masyarakat yang mengkonsumsi makanan tradisional sarat karbohidrat (56 persen) dan minuman panas (41 persen).

Padahal, Andam menjelaskan, porsi makanan seimbang menurut filosofi Herbalife Nutrition terdiri dari 40 persen karbohidrat, 30 persen protein, 30 persen lemak, 25 gram serat, serta delapan gelas air mineral.

Di kesempatan yang sama, Vice President Worldwide Sport Performance & Fitness Herbalife Nutrition, Samantha Clayton turut menghitung jumlah kalori yang dikonsumsi rata-rata orang Indonesia dalam sehari.

Satu mangkuk nasi menurutnya mengandung sekitar 200 kalori. Padahal, banyak masyarakat yang mengkonsumsi sarapan tradisional di Indonesia dengan porsi karbohidrat hingga dua mangkuk.

Artinya, konsumsi nasi saja sudah mencapai sekitar 400 kalori. Angka itu belum termasuk dengan lauk pauknya.

Apalagi jika ditambah minum kopi yang kalorinya bisa mencapai 400 kalori.

Padahal, asupan kalori yang direkomendasikan adalah 2.000 kalori setiap harinya.

"Nasi saja sudah 400 kalori, lalu ditambah daging, sosis, dan lainnya bisa jadi sarapan 700 kalori atau lebih. Itu hampir setengah dari 2.000 kalori hanya dalam sekali makan," kata Samantha.

Protein

Samantha yang juga merupakan pelatih fisik pesepakbola Cristiano Ronaldo itu menyarankan agar masyarakat mulai mengubah pola pikirnya dalam mengatur porsi makanan.

Saat makan, Samantha menyarankan agar kita mendahulukan protein. Protein dianggap sangat esensial untuk tubuh.

Selain itu, protein tidak hanya mengenyangkan tapi bisa menjaga rasa kenyang tersebut lebih lama ketimbang karbohidrat.

Anjuran untuk mendahulukan protein juga selalu diberikan Samantha untuk para atlet muda.

"Mindset itu yang harus diubah. Mulailah dengan porsi kecil. Protein sangat esensial dan dipertimbangkan sebagai nutrien pertama," ujar Samantha.

"Seperti namanya, 'protein'. Berasal dari bahasa Yunani disebut 'protos' yang artinya nutrien pertama," sambungnya.

Adapun 11 negara yang menjadi objek survei adalah Australia, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Malayeia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Responden yang terlibat mencapai 5.000 orang.

Survei dilakukan untuk mengetahui kebiasaan dan pola sarapan serta kebiasaan konsumsi makanan bagi konsumen di Asia Pasifik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.