Kompas.com - 01/05/2018, 09:25 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Sudah beberapa hari dalam minggu ini saya menemukan banyak kejanggalan soal pangan bangsa kita.

Ternyata pilihan pangan lebih banyak dianut orang, bukan karena paham tentang kebutuhan tubuh, tapi karena ‘kepercayaan’.

Cukup banyak deretan pangan yang dipercayai sehat tepatnya. Dari mana kepercayaan itu berasal? Tidak perlu jauh-jauh: iklan.

Di masa sekarang, iklan tidak perlu ditampilkan secara kasar seperti ‘orang jual kecap’ – begitu istilah promosi di zaman ayah saya. Karena zaman itu bisa jadi satu-satunya bahan pangan buatan pabrik barulah kecap saja.

Mengunggah foto cantik di media sosial sambil menyesap botol bermerek sudah bisa mendatangkan uang banyak sekaligus pengikut fanatik.

Selama punya otot bagus atau tubuh molek, si artis tahu-tahu disebut punya diet sehat. Dalam sekejap makanan yang sama ditiru ribuan orang yang bermimpi punya tubuh sebagus artis.

[Baca juga : Kesehatan, Lahan Rentan Bisikan]

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saya tak pernah berhenti mengagumi orang-orang yang sengaja direkrut dengan bayaran mahal oleh industri pangan.

Mereka adalah para pakar sesungguhnya yang tak pernah tampil di muka umum, namun mengembangkan cetak biru pemasaran suatu produk yang tadinya tidak ada, tapi bisa berubah 180 derajat menjadi kecanduan publik.

Ahli gizi yang dipekerjakan untuk berkoar-koar di corong promosi dengan pembenaran ilmiah bukan tandingannya.

Survey diam-diam semakin memoles produk sesuai apa yang disukai lidah mayoritas – membuat pangan ajaib itu kian lekat di hati rakyat.

Kini, 80 persen lebih pengisi mini market dan swalayan yang disebut ‘makanan’ justru produk yang semakin jauh dari bentuk aslinya di alam.

[Baca juga : Ketika Hasil Panen Sekadar Komoditi, Bukan untuk Konsumsi Demi Gizi]

Dipopulerkan oleh berbagai wajah cantik dan ganteng, bahkan anak-anak balita yang sengaja dipilih.

Seakan-akan, semua anak bisa seperti itu jika mengonsumsi benda yang sedang ditayangkan.

Pakar dibayar untuk pembenaran secara ilmiah, yang mencatut berbagai studi tentang si produk yang diproyeksikan sebagai bentuk aslinya di alam.

Padahal, yang ada di pasar adalah hasil reka rasa dan reka rupa dengan penambahan polesan sesuai selera pasar.

Sementara itu selama 30 tahun lebih, terjadi pembiaran atas perlindungan konsumen dari keliaran iklan dan azas ‘suka-suka pasang label’.

[Baca juga : Rahasia Makna di Balik Nama dalam Label Makanan]

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.