Terjebak Hal Sepele - Kompas.com

Terjebak Hal Sepele

Kompas.com - 13/05/2018, 07:07 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

BANYAK orang terjebak hanya karena masalah sepele. Hal sepele, remeh, receh yang semula hanya dianggap angin lalu, ternyata bisa berubah menjadi angin badai. Pepatah mengatakan banyak orang tergelincir karena kerikil kecil, bukan batu besar.

Belakangan ini banyak orang bertengkar dan saling lapor hanya karena masalah sepele. Orang-orang "zaman now" banyak yang mudah tersinggung hanya karena masalah sepele. Bahkan ada yang menganiaya atau membunuh hanya karena masalah sepele.

Pada tahun 2017, tepatnya di Jakarta Barat, seorang ibu muda berinisial NW (25 tahun) menganiaya anaknya berinisial GW yang baru berumur lima tahun. Ibu muda tersebut seperti kesetanan menganiaya anaknya hingga tewas! Apa penyebabnya? Hanya karena anak tersebut sering ngompol!

Awal tahun 2018, ada guru kesenian SMAN I di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, tewas karena dipukul muridnya sendiri. Leher guru tersebut diduga patah, tak lama kemudian tewas. Penyebabnya, murid tersebut tak rela ditegur karena tak mengerjakan tugas, lalu berbalik memukul guru tersebut sampai tersungkur!

Ada lagi berita yang pernah saya baca di media online, seorang ibu tega membunuh tiga anaknya yang masih kecil. Caranya dengan membenamkan masing-masing anaknya ke bak mandi hingga tewas. Penyebabnya, gara-gara uang Rp 20.000!

Waktu itu istrinya meminta uang Rp 20.000 kepada suaminya untuk makan anak-anaknya hari itu. Tetapi suaminya tidak memberi, malah pergi ke luar rumah.

Istrinya lantas mengancam, kalau tidak memberi uang maka ia akan bunuh semua anaknya. Suaminya malah menantang, bunuh saja!

Baru-baru ini terjadi pembunuhan keluarga di Tangerang oleh Pendi (60) terhadap istrinya, Emah (40), dan kedua anaknya, Nova (20) dan Tiara (11). Hanya gara-gara istrinya telat membayar cicilan mobil!

Emosi negatif

Kenapa gara-gara hal sepele mereka bisa berbuat nekat? Apa faktor penyebabnya?

Kalau mau ditilik lebih jauh, dalam psikologi ada yang dinamakan gangguan emosional, khususnya emosi negatif, emosi yang tidak stabil. Emosi jenis ini akan menyeret masalah-masalah sepele menjadi masalah besar.

Inilah yang melatarbelakangi kejadian di atas. Sebab, dalam emosi negatif terkandung di dalamnya rasa marah, gelisah, sedih, takut, benci, dendam, kecewa, sakit hati, rasa putus asa, tak berpikir panjang, berpikiran negatif, tidak bisa mengekang diri, egois, terlalu mudah kecewa, tidak sabaran.

Emosi negatif tersebut tidak akan hilang selama tekanan eksternal masih ada. Hal ini selain menimbulkan amarah juga cenderung agresif. Menurut Leonard Berkowitz (1926-2016), semakin banyak perasaan negatif semakin kuat dorongan agresi yang ditimbulkan.

Adapun agresi, menurut Berkowitz, merupakan bentuk perilaku yang bertujuan menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental.

Jadi, perilaku agresif ini tujuannya hanya untuk melukai atau mencelakakan, bahkan bisa membunuh.

Persis seperti yang dikatakan oleh psikolog Florence Wedge bahwa emosi akan menjadi semakin kuat apabila disertai ekspresi fisik. Misalnya, mengepalkan tangan, menendang, memaki-maki, menuding-nuding, membentak.

Ekspresi fisik ini bila dibiarkan akan menjadi brutal, tidak terkendali, kalap. Pelampiasan tersebut biasanya ditujukan terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap lingkungan sekitar.

Dengan demikian, timbul rasa puas hati setelah melampiaskan semuanya. Walaupun mungkin timbul penyesalan setelahnya.

Mengontrol diri

Orang yang mudah meledak emosinya gara-gara hal sepele bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak dapat mengontrol diri. Padahal mengontrol diri (self control) adalah tiang pancang pada diri seseorang.

Mengontrol diri berarti bisa menunda atau membatalkan sebuah perbuatan yang bisa berakibat buruk, baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

Mengontrol diri, menurut Konsep Averill, terdiri dari beberapa tipe, yaitu behavioral control, cognitive control, dan decisional control.

Behavioral control (kemampuan mengontrol perilaku) adalah kemampuan individu untuk mengontrol perilaku untuk mengurangi penyebab tekanan.

Cognitive control (kemampuan kontrol kognitif) adalah kemampuan individu untuk mengubah atau memfokuskan pada hal-hal yang menyenangkan saja, bukan pada penyebabnya.

Decisional control (kemampuan mengontrol keputusan) adalah kesempatan memilih tindakan yang diyakini benar.

Jadi, betapa pentingnya mengontrol diri dalam menghadapi hal-hal sepele. Melihat Konsep Averill tersebut, ternyata emosi bisa dikendalikan melalui self control ini.

Apabila ia mampu mengendalikan hal sepele, hal kecil, maka ia pun akan mampu pula mengendalikan perkara yang lebih besar.



Close Ads X