Kompas.com - 16/05/2018, 08:00 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Kembali memiliki tubuh langsing adalah salah satu yang diharapkan perempuan pasca melahirkan.

Namun, mendapatkan tubuh demikian bukan perkara mudah.

Pendiri klinik LightHOUSE, dr Grace mengatakan pasca melahirkan, perempuan banyak yang berubah dari ujung rambut sampai kaki.

Sebut saja rambut yang sering rontok karena hormonal, atau muncul flek pada kulit.

Belum lagi payudara yang mengendur atau stretch mark.

"Tapi bagian perut adalah yang paling sering dikeluhkan," ungkap Grace, di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Baca juga: Jenis Kardio Paling Efektif Singkirkan Lemak Perut

Dia mengungkapkan, selama kehamilan, setidaknya ibu mengalami kenaikan berat badan antara 11-13 kilogram.

Kondisi ini dipengaruhi antara lain berat janin, plasenta hingga cadangan berat.

Pasca melahirkan, dalam kurun tiga bulan otomatis menurun enam sampai delapan kilogram.

Jika dalam tiga bulan tidak berkurang sama sekali, maka berisiko mengalami masah berat badan.

Terlebih bila sudah mencapai enam bulan pasca melahirkan.

"Karena itu, enam bulan pertama (pasca melahirkan) itu adalah periode emas, jika tidak ada penurunan berat badan, maka akan cenderung menetap," katanya.

Apa yang bisa dilakukan?

Grace megamini jika ibu-ibu sering menghadapi dilema, seperti banyak makan karena takut anak kurang gizi, namun juga mengalami masalah lain seperti kenaikan berat badan.

Hal ini lah yang menurut Grace kerap berdampak pada ibu, sehingga mengalami kenaikan berat.

Baca juga: Tak Semua Ibu Bisa Sesegar Kate Middleton 7 Jam Setelah Melahirkan

Menurut dia, ibu perlu memahami fase-fase tertentu.

Semisal pada tiga bulan pertama setelah melahirkan terapkan balanced diet, tak perlu ketogenik atau tidak makan malam, terlebih dalam keadaan menyusui.

"Cukup batasi gula dan tepung. Gula adalah semua yang manis dan tepung adalah olahan tepung," kata dia.

Kemudian 3-6 bulan, selama anak masih ASI, juga menerapkan balanced diet.

"Makan nasi, sayur, lauk. Bukan membatasi karbohidrat, karena kita masih membutuhkan," katanya, yang juga menyarankan olahraga.

Dia juga mengingatkan untuk tidak melupakan asupan cairan. Sebab, kekurangan cairan justru berdampak pada ASI yang berkurang.

Baca juga: ?Working Mom? Masih Bisa Memberi ASI, asalkan...

"ASI seringkali enggak keluar bukan karena kekurangan nutrisi, tapi kurang air," kata dia.

Lebih dari enam bulan, jika belum dapatkan berat yang diinginkan, maka harus diet sehat.

Dia melanjutkan, jika ingin diet dengan mengurangi porsi makan 25 persen dari total kalori yang diperlukan, ASI tidak akan berpengaruh.

"Enggak usah terlalu parno anak kurang gizi atau makan," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.