Teror: Tidak Boleh Takut?

Kompas.com - 16/05/2018, 10:00 WIB
Sejumlah warga mengikuti aksi Solidaritas dan Doa Bersama di Tugu Pal Putih, Yogyakarta, Minggu (13/5/2018). ANTARA FOTO/Andreas Fitri AtmokoSejumlah warga mengikuti aksi Solidaritas dan Doa Bersama di Tugu Pal Putih, Yogyakarta, Minggu (13/5/2018).

Oleh: Retha Arjadi, M.Psi., Psikolog

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan berbagai ancaman yang dapat membuat kita merasa takut dalam level yang bervariasi. Misalnya saja, ancaman ketidaknyamanan dan penyakit yang datang dari kondisi cuaca yang tidak menentu, ancaman bencana alam, dan lain sebagainya.

Dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dalam hidup, wajar jika kita merasa takut. Perasaan takut itu sendiri merupakan reaksi otomatis yang muncul saat kita merasa terancam, sehingga kemunculannya tidak bisa dihindari.

Dari berbagai jenis ancaman dalam hidup yang dapat menghasilkan perasaan takut, ancaman dalam bentuk teror adalah sesuatu yang dapat memunculkan perasaan takut yang jauh melebihi ketakutan kita atas banyak hal lain.

Karena ancaman teror biasanya bersifat luas, mengancam nyawa, dan memang oleh pelaku teror dimaksudkan untuk menghasilkan ketakutan yang besar, bukan hanya di level individual, tetapi di masyarakat.  

Menanggapi teror yang terjadi belakangan, masyarakat mengeluarkan reaksi yang sangat beragam. Ada yang dengan segera menyebarkan berita atau foto-foto tempat kejadian dan korban disertai dengan pesan yang menggambarkan ketakutan, atau menyebarkan kabar-kabar menakutkan dari sumber tidak jelas yang ternyata hoax, karena takut isinya ternyata benar (siapa tahu benar).

Petugas kepolisian saat mengevakuasi jenasah di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Hingga pukul 12.30 WIB, jumlah korban ledakan di 3 gereja mencapai 10 korban meninggal dan 41 luka-luka.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Petugas kepolisian saat mengevakuasi jenasah di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Hingga pukul 12.30 WIB, jumlah korban ledakan di 3 gereja mencapai 10 korban meninggal dan 41 luka-luka.
Padahal efek penyebaran hoax juga dapat menambah ketakutan yang tidak semestinya ada di masyarakat.

Mengingat perasaan takut muncul secara otomatis sebagai reaksi terhadap ancaman, maka dapat dipahami mengapa reaksi semacam ini banyak terjadi.

Di sinilah pengelolaan rasa takut itu menjadi penting. Membagikan foto-foto korban teror atau menyebarkan hoax bukanlah hal yang baik untuk dilakukan karena dapat menyebarkan lebih banyak ketakutan di masyarakat, artinya secara tidak langsung ‘membantu’ pelaku teror mencapai tujuannya menyebarkan ketakutan secara massal.

Ini bukan berarti kita tidak boleh merasa takut, namun tidak menunjukkan ketakutan secara luas, termasuk di media sosial, adalah pilihan yang paling bijak untuk dilakukan untuk mencegah ketakutan berkembang semakin luas.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X