Potret Ramadhan di Utara Kanada, Puasa hingga 20 Jam Sehari... - Kompas.com

Potret Ramadhan di Utara Kanada, Puasa hingga 20 Jam Sehari...

Kompas.com - 17/05/2018, 14:35 WIB
Ilustrasi Ramadhan.Shutterstock Ilustrasi Ramadhan.

EDMONTON, KOMPAS.com - Umat Muslim di seluruh belahan dunia mulai memasuki bulan suci Ramadhan yang ditandai dengan ibadah puasa selama satu bulan lamanya.

Para pemeluk agama Islam wajib menjalankan ibadah puasa -menahan beragam hawa nafsu, sejak sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam.

Jika di Indonesia, lamanya puasa sekitar 13 jam sehari, tidak demikian dengan beberapa wilayah lain di dunia.

Umat Muslim di beberapa wilayah di dunia harus berjuang lebih panjang dalam ibadah puasa ini.

Kalender hijriah dalam penanggalan Islam menyebabkan pelaksanaan ibadah Ramadhan jatuh di saat yang bervariasi dari tahun ke tahun dalam hitungan masehi.

Dengan perhitungan waktu terbit dan tenggelamnya surya, maka di Mekkah, Arab Saudi, sejak Rabu (16/5/2018) waktu puasa sudah dimulai, untuk kira-kira 14 jam sehari.

Namun, tidak demikian dengan kaum Muslim di Toronto, Kanada. Mereka harus menjalani puasa selama sekitar 16 jam sehari.

Angka itu bukan yang terlama. Warga Kanada yang ada di Kota Edmonton, yang berada di utara negeri itu, harus menjalani puasa selama 19 jam.

Bahkan, di hari-hari terakhir menjelang Idul Fitri, puasa warga Edmonton akan berlangsung selama 20 jam sehari.

Baca juga: Tak Perlu Puasa Olahraga di Bulan Ramadhan

Arqum Riaz, penasihat religius kaum muda yang bekerja di bawah the Canadian Ministries for Islamic Learning Edmonton, mengungkapkan pendapat tentang hal itu.

Seperti dikutip dari laman the Star, Riaz menyebut, tantangan terbesar yang dialami umat Muslim di "utara" adalah waktu.

"Tantangannya macam bekerja dalam long shift, di mana kami tidak mendapat cukup waktu untuk tidur, dan tidak cukup waktu untuk beristirahat," kata Riaz.

“Akan menjadi sangat berat untuk beribadah dan meresapi bulan yang penuh berkah ini," kata pria itu.

Kota terdekat

Riaz menyebutkan, untuk wilayah yang lebih jauh ke utara di Kanada, di mana matahari tidak terbenam, maka perhitungan lama puasa mengikuti hitungan di kota utama terdekat.

Noor ul Amin, seorang warga setempat yang bekerja sebagai network design manager di Kota Whitehorse, mengaku menjalani puasa mulai pukul 3.30 dinihari hingga pukul 22.40, setiap hari.

Namun, Amin mengaku banyak umat Muslim di Whitehorse yang mengikuti waktu berpuasa yang berlaku di Vancouver, dalam rentang yang lebih pendek. 

“Kalau untuk saya, saya kuat. Jadi tidak masalah. Cuma bagi mereka yang tak sekuat saya, mereka lalu mengikuti perhitungan puasa di Vancouver, dengan lama puasa yang lebih singkat."

Amin mengaku percaya, dalam Islam tidak ada yang terlalu kaku, selama prinsip-prinsip dasar dalam ibadah puasa dipatuhi.

“Dasarnya adalah ketakwaan, tidak berbohong, tidak melakukan hal buruk terhadap orang lain."

"Ada hal-hal yang lebih penting dibanding perhitungan waktu, seperti beramal dan tak menebar fitnah," ungkap Amin dalam bahasa Urdu. 

Baca juga: 7 Cara Menyiasati Agar Tak Dehidrasi Saat Puasa

Berbuka dan sahur "disatukan"

Amin lalu mengatakan, karena waktu bersantap yang amat pendek, banyak orang semacam dia yang hanya makan satu kali demi puasa 20 jam.

Artinya, mereka memilih untuk menyatukan waktu santap berbuka, sekaligus santap sahur.

“Hari puasanya amat panjang, jadi kami akan menghadapi banyak masalah dengan waktu."

"Jadi yang kami lakukan adalah saat kami pulang dari kantor, kami tidur pukul 18.00 sampai pukul 22.30."

"Lalu kami bangun untuk berbuka, dan setelah shalat rampung sekitar satu jam, kami melakukan santap sahur," papar Amin.

Kesaksian tersebut diungkapkan Nakita Valerio, Vice President External Affairs, the Alberta Muslim Public Affairs Council, dan juga periset Tessellate Institute.

Tessellate Institute adalah organisasi independen nirlaba yang mengeksplorasi dan mendokumentasi pengalaman hidup warga Muslim di Kanada. 

Bagi Valerio, tantangan hidup warga Muslim di wilayah utara bumi seperti Edmonton, yang tetap berpegang pada waktu puasa adalah kehilangan waktu tidur.

“Mereka harus mengadaptasi waktu tidur, ketika mereka hanya memiliki kesempatan makan selama beberapa jam sejak matahari terbenam, hingga terbit kembali."

"Hasilnya, tak banyak waktu untuk tidur dan beristirahat," kata Valerio.

Lebih mudah

Junaid Jahangir, seorang Profesor Ilmu Ekonomi di MacEwan University, berpuasa dengan mengikuti waktu Arab Saudi bisa menjadi pengecualian agar ibadah puasa berlangsung lebih mudah. 

"Tidak perlu ada kesulitan yang tidak perlu dalam agama. Kami menyebut Islam sebagai agama yang penuh keseimbangan," ungkap dia.

Baca juga: Bingung Atur Menu Puasa, Yuk Coba Menu Sehat Ini

Jahangir mengaku sahur sebelum matahari terbit, dan mengakhiri ibadah puasanya setiap pukul 19.00, setiap hari.

“Para ahli pun berpendapat bahwa tujuan puasa bukanlah untuk pamer, tapi untuk ketenangan batin. Jadi saya mengikuti ritual puasa, selama itu sesuai dengan kekuatan dasar manusia,” kilah Jahangir.

Namun Valerio mengatakan, pengecualian berlaku bagi warga yang tinggal di tempat-tempat yang lebih jauh ke utara, di mana matahari tidak terbenam. 

Atau, bagi mereka yang tidak dapat berpuasa selama itu, karena alasan kondisi kesehatan. 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X