Kompas.com - 26/05/2018, 12:00 WIB
Marketing Communications Manager This Is April, Jasmine Jawie (ketiga dari kiri) dan Founder & CEO This Is April, Maria Anggraini (ketiga dari kanan), bersama para model. Dok This Is AprilMarketing Communications Manager This Is April, Jasmine Jawie (ketiga dari kiri) dan Founder & CEO This Is April, Maria Anggraini (ketiga dari kanan), bersama para model.

KOMPAS.com - Walau tidak memiliki pendidikan di dunia mode, Maria Anggraini, pendiri merek fashion This Is April, sukses mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Merek lokal ini pun siap meluaskan pasar ke Asia Tenggara.

Maria pada awalnya mengelola restoran. Wanita lulusan sekolah perhotelan ini tertarik dengan bisnis fashion karena menyukai gaya busana wanita-wanita muda yang ia lihat saat traveling ke luar negeri.

"Saya lihat kok gaya bajunya bagus-bagus dan sulit menemukan yang seperti itu di sini," ujar Maria saat berbincang dengan Kompas.com di salah satu tokonya di Mal Kota Kasablanka Jakarta (24/5).

Ketika menemani suaminya ke China tahun 2011, Maria berkesempatan bertemu dengan beberapa pemilik pabrik pakaian di sana. Ia pun memiliki ide untuk membuat bisnis fashion.

"Awal bisnis ini di tahun 2012. Semua baju saya yang desain, dijahitnya di pabrik di China," kata wanita berusia 37 tahun ini.

Founder & CEO This Is April, Maria AnggrainiDok This Is April Founder & CEO This Is April, Maria Anggraini
This Is April (TIA) saat ini menjadi salah satu merek busana lokal ready to wear yang populer karena modelnya yang kekinian dan harganya terjangkau.

"Ciri khas kami memang selalu mengikuti tren, nyaman dipakai, easy to mix and match, dan yang terpenting affordable," kata Maria.

Dengan tim kreatif yang dimilikinya, menurut Maria saat ini TIA mampu mengeluarkan 30 model pakaian baru setiap minggunya.

Ditambahkan oleh Marketing Communications Manager This Is April, Jasmine Jawie, konsumen This Is April pada umumnya loyal dengan merek ini.

"Bisnis kami memang fast fashion. Barang-barang yang dijual juga cepat sekali habisnya, terkadang harus re-stock lagi. Konsumen juga hapal mana saja yang model baru dan yang lama," kata Jasmine, dalam kesempatan yang sama.

Kemudahan untuk padu padan yang menjadi ciri brand ini, menurut Maria, menjadi kunci mengapa TIA memiliki pasar yang luas.

"Mulai dari remaja sampai ibu muda masih bisa pakai. Yang berhijab pun bisa pakai karena rata-rata modelnya memang loose, jadi tinggal tambahkan hijab saja," tutur Maria.

Dari online

Nama This Is April ternyata merujuk kepada bulan diluncurkannya bisnis fashion ini.

"Persiapan bisnis ini dimulai sekitar akhir tahun 2011. Waktu itu saya kira-kira semua akan siap bulan April, jadi saya pakai saja jadi merek. Kebetulan saya dan anak saya lahir di bulan April," tuturnya.

Koleksi Lebaran dari This Is AprilDok This Is April Koleksi Lebaran dari This Is April
Bulan April yang merupakan musim semi, menurut Maria, juga memiliki konotasi dengan kesan ceria dan berkembang.

Karena belum punya pengalaman bisnis fashion, pada awalnya Maria memilih jalur pemasaran secara online di tahun 2012. "Tapi, penjualannya tidak sesuai harapan," ujarnya.

Maria mengatakan, lesunya penjualan bajunya mungkin disebabkan karena pada saat itu masyarakat belum percaya dengan belanja online.

Untuk menyiasatinya, Maria rajin mengikuti bazaar fashion. "Responnya sangat baik, saya sering kehabisan barang. Makanya saya yakin kalau koleksi baju saya bisa diterima, cuma orang memang belum pada kenal saja," kata ibu dua anak ini.

Setiap kali selesai mengikuti bazaar, Maria bercerita tingkat kunjungan ke website TIA terus meningkat.

Ia pun membuka toko pertamanya di ITC Ambasador Jakarta untuk lebih memperkenalkan mereknya.

"Benar saja, setelah saya buka toko traffic ke website meningkat pesat. Mungkin karena orang sudah kenal mereknya, tahu ukurannya dan bahannya, jadi percaya untuk beli secara online," ujarnya.

Sejak saat itu, Maria menjalankan bisnis online dan offline secara pararel. Kini, TIA sudah memiliki 49 toko di seluruh Indonesia dan satu di Malaysia.

Ekspansi

Dengan tim yang dimilikinya saat ini, Maria mengaku saat ini fokusnya adalah pada pengembangan bisnis.

Ibu dari dua anak yang beranjak remaja ini, mengaku baru mengurusi bisnisnya saat anak-anaknya sedang sekolah atau sudah tidur.

"Saya beruntung memiliki tim yang sudah bisa diandalkan, jadi saya fokus pada pengembangan saja," katanya.

Setelah sukses dengan toko pertamanya di Kuala Lumpur, Malaysia, menurut Maria saat ini ia sedang mempersiapkan membuka toko keduanya di negeri jiran itu.

"Kami juga sedang bersiap-siap membuka toko di Singapura, Vietnam, dan Brunei . Kalau toko H&M saja bisa masuk ke sini, mengapa merek Indonesia tidak bisa sukses di negara lain?," katanya optimis.

Jasmine menjelaskan, alasan membuka toko di negara-negara tetangga karena cukup banyak pemesanan online yang berasal dari negara-negara tersebut.

"Toko kami yang di Batam juga banyak pembelinya berasal dari Malaysia dan Singapura," ujarnya.

Selain fokus mengembangkan ritel fashion, belum lama ini This Is April juga mulai melirik bisnis kosmetik dengan meluncurkan koleksi lipstik.

"Para pecinta fashion umumnya juga menyukai kosmetik," ujar Jasmine.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X