Cerita Art In A Cup Starbucks dan Harapan untuk Kopi Sumatra - Kompas.com

Cerita Art In A Cup Starbucks dan Harapan untuk Kopi Sumatra

Kompas.com - 10/06/2018, 17:36 WIB
Direktur Starbucks Indonesia Anthony Cottan berpose di depan pohon kopi yang ditanamnya dua tahun lalu di Starbucks Farmer Support Center, Brastagi, Sumatera Utara.KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Direktur Starbucks Indonesia Anthony Cottan berpose di depan pohon kopi yang ditanamnya dua tahun lalu di Starbucks Farmer Support Center, Brastagi, Sumatera Utara.

MEDAN, KOMPAS.com - Masih ingat kampanye 'Art In A Cup' Starbucks? Bagi kamu yang sering mengunjungi gerai Starbucks pasti sudah tak asing dengan kampanye yang berlangsung selama April-Maret 2018 itu.

Kampanye ini menghadirkan empat varian menu minuman spesial. Setiap 10 gelas yang terjual akan dikonversi menjadi 1 bibit pohon kopi untuk petani kopi di Sumatra.

Nah, hasil 'Art In A Cup' akhirnya berhasil disalurkan kepada para petani kopi, Jumat (8/6/2018) berupa 150 ribu bibit pohon kopi dengan nilai total Rp 400 juta.

Berkolaborasi dengan Starbucks Farmer Support Center (FSC) di Brastagi, Sumatra Utara, upacara penyerahan bibit pohon kopi diserahkan langsung oleh Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan.

Anthony menuturkan, Starbucks adalah perusahaan yang sangat besar dengan lebih dari tiga juta kopi terjual setiap bulannya. Namun, Starbucks tidak hanya sekadar menjual kopi melainkan ingin ikut mengedukasi masyarakat agar bisa menghasilkan kopi yang baik.

Apalagi, dari pilihan biji kopi di Starbucks, kopi Sumatra disebut sebagai biji kopi terfavorit di dunia.

Baca juga: Kopi Sumatra Paling Digemari di Seluruh Starbucks Dunia

"Bicara soal kopi yang baik, maka juga bicara tentang Kopi Sumatera. Seiring bertumbuhnya Starbucks, kami juga ingin semua orang sukses," kata Anthony di FSC Starbucks, Brastagi, Jumat (8/6/2018).

Kepala Agronomis Starbucks Farmer Support Center (FSC) Surip Mawardi saat menjelaskan mengenai area yang ada di lahan FSC, Jumat (8/6/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Kepala Agronomis Starbucks Farmer Support Center (FSC) Surip Mawardi saat menjelaskan mengenai area yang ada di lahan FSC, Jumat (8/6/2018).
Sebanyak 19 kelompok tani akan mendapatkan bibit gratis dari FSC. Kepala Agronomis Starbucks FSC, Surip Mawardi mengatakan, kelompok tani tersebut tak terbatas hanya di tanah Karo namun juga akan melebar ke sejumlah kabupaten di Sumatera Utara bahkan hingga ke Aceh dan Kerinci.

Hal ini dilakukan agar dampak positif edukasi ini sampai ke para petani kopi di banyak daerah.

Sebab, kata dia, para petani secara swadaya mau mengikuti program tersebut dan menjadi lebih semangat dalam menanam kopi.

Di beberapa daerah, petani bisa memiliki 2.000 pokok per hektare jika kondisi kebun masih bagus.

Bahkan, Surip memiliki keinginan jangka panjang terhadap kopi di daerah-daerah lainnya. Salah satunya Sumatera Selatan.

"Saya sebagai personal orang pekerja kopi, punya obsesi mengembalikan Sumsel jadi produsen arabika lagi. Dulu di sana perkebunan arabika zaman belanda, sekarang jadi Robusta," kata Surip.

"Jadi 'Art In A Cup' ini dampaknya bisa luar biasa," sambungnya.

Baca juga: Starbucks Hampir Punya Nama yang Mengerikan

Salah satu varietas biji kopi yang ada di Starbucks Farmer Support Center (FSC).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Salah satu varietas biji kopi yang ada di Starbucks Farmer Support Center (FSC).
Untuk di tanah Karo sendiri, sebetulnya kopi hanya bersifat tanaman tepi. Tanaman utama warga setempat adalah sayur-sayuran.

Meski hanya merupakan tanaman tepi, namun kopi tetap bisa menyokong ekonomi warga menjadi lebih baik.

Hal ini berarti, jika edukasi menanam kopi terus dilakukan secara luas. maka bisa dilakukan oleh siapa saja.

"Itu misi kami. Orang kan di sini dulu tanam jeruk tapi rusak karena hama lalat buah dan biaya penanggulangannya sangat mahal, jadi akhirnya kopi sebagai alternatif," tuturnya.

Menanti 'Art In A Cup' Lainnya...

Senior GM Corporate PR & Communication Starbucks Indonesia, Andrea Siahaan mengaku baru mengetahui bahwa dampak program tersebut bisa sampai hingga daerah di luar Sumatra Utara. Sebab, daerah Sumut memang baru menjadi target awal Starbucks.

Melihat dampak positif yang cukup luas, Starbucks mempertimbangkan program sejenis 'Art In A Cup' untuk semakin mendukung kemajuan para petani kopi.

Tak mesti tahun depan, namun program tersebut bisa jadi dilakukan dalam waktu dekat.

"Tidak harus 'Art In A Cup', mungkin ada program lain yang bisa kita teruskan ke FSC," kata Andrea.


Close Ads X