Kompas.com - 11/06/2018, 08:02 WIB
Ilustrasi cemas dan takut KatarzynaBialasiewiczIlustrasi cemas dan takut

KOMPAS.com - Kesepian dapat meningkatkan risiko seseorang meninggal akibat penyakit kardiovaskular.

Pernyataan ini bukan sekedar mitos belaka. Para peneliti telah mendapatkan bukti-buktinya.

Berdasarkan riset yang dipresentasikan di Dublin, Irlandia, pada hari Sabtu (9/11/2018), kesepian adalah penyebab utama kematian dini.

Riset dilakukan oleh peneliti Denmark dan menemukan kesepian dapat meningkatkan risiko kematian hingga dua kali lipat pada wanita.

Sementara itu, risiko yang sama juga ditemukan pada pria, meskipun tidak sebesar risiko yang terjadi pada wanita.

"Kesepian lebih umum hari ini daripada sebelumnya, dan lebih banyak orang hidup sendiri," ucap Anne Vinggaard Christensen, selaku pemimpin riset.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penelitian sebelumnya, kata Anne Vinggaard, telah menunjukkan kesepian dan isolasi sosial meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Tapi, riset tersebut belum meneliti pasien dengan berbagai jenis penyakit kardiovaskular.

Riset ini juga mengungkapkan orang yang merasa kesepian, tiga kali lebih mungkin melaporkan gejala kecemasan dan depresi, baik pria dan wanita.

Mereka juga memiliki kualitas hidup yang jauh lebih rendah secara umum.

Riset ini telah depresentasikan dalam di EuroHeart 2018, konferensi keperawatan tahunan European Society of Cardiology.

Dilansir dari Independent, riset dilakukan dengan menganalisis data dari 13.463 pasien yang menderita penyakit jantung iskemik, aritmia (irama jantung abnormal), gagal jantung atau penyakit katup jantung.

Kualitas jaringan sosial mereka dinilai dengan menghubungkan data dari register nasional dengan hasil dari survei DenHeart.

Survei melibatkan semua pasien yang dipulangkan dari lima pusat jantung di Denmark antara April 2013 dan April 2014.

Dalam survei, pasien diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai kesehatan fisik dan mental mereka, serta tingkat dukungan sosial yang mereka miliki.

Baca juga: Tips Mujarab untuk Para Manula Menepis Rasa Sepi...

Tingkat kesepian masing-masing orang dinilai melalui dua pertanyaan tentang dukungan sosial.

Pertanyaan pertama berupa 'apakah peserta memiliki seseorang untuk diajak bicara ketika membutuhkannya'.

Sementara itu, pertanyaan kedua berupa 'apakah peserta terkadang merasa sepi dan ingin bersama seseorang'.

"Kesepian adalah prediktor kuat kematian dini, kesehatan mental yang lebih buruk, dan kualitas hidup yang lebih rendah pada pasien dengan penyakit kardiovaskular," papar Anne Vinggaard.

Menurutnya, kesepian juga menjadi prediktor yang jauh lebih kuat daripada hidup sendiri, baik pada pria dan wanita.

“Kita hidup di masa ketika kesepian melanda dan penyedia kesehatan harus mempertimbangkan risiko kesepian ini," paparnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.