Kompas.com - 13/06/2018, 10:45 WIB
Ilustrasi kedelai Ilustrasi kedelai

Ludlam-Raine berpendapat, mitos ini biasanya berasal dari riset dengan subyek penelitian berupa hewan yang telah diberi dosis kedelai yang sangat tinggi.

Apalagi, dosis kedelai yang diberikan jauh lebih banyak daripada rata-rata konsumsi kedelai manusia.

"Cara hewan mencerna kedelai sangat berbeda dnegan manusia sehingga keduanya tidak dapat dibandingkan," ucapnya.

Sebaliknya, riset yang membuktikan manfaat kedelai biasanya dilakukan oleh perusahaan dan individu yang memiliki kepentingan tertentu.

Oleh karena itu, riset seperti itu juga tak sepenuhnya bebas prasangka.

Misalnya, riset lintas referensi pada tahun 2010 menyatakan konsumsi kedelai tidak memiliki efek "feminisasi" pada pria seperti pendapat yang beredar selama ini.

Riset yang dipimpin oleh Dr Mark Messina, Direktur Eksekutif Soy Nutrition Institute, juga menyimpulkan hal yang sama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Riset yang dipimpin oleh Messina ini menyimpulkan bahwa protein kedelai dan isoflavon tidak memiliki efek pada hormon reproduksi laki-laki.

Meskipun banyak riset yang memberi hasil bertentangan, Lambert dan Ludlam-Raine menganjurkan konsumsi kedelai sebagai bagian dari diet yang sehat.

Konsumsi kedelai juga sangat dianjurkan bagi mereka yang mengikuti pola diet tinggi sayuran.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.