Tempat Terbaik Untuk Anak Tumbuh, Di Mana Posisi Indonesia? - Kompas.com

Tempat Terbaik Untuk Anak Tumbuh, Di Mana Posisi Indonesia?

Kompas.com - 28/06/2018, 10:59 WIB
Ilustrasi anak sekolah dasar (SD)KOMPAS.com/Indra Akuntono Ilustrasi anak sekolah dasar (SD)
JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang, dan suatu negara punya andil besar untuk itu.
 
Dalam laporan terbaru lembaga Save The Children Internasional, Indonesia belum berhasil menembus 100 negara sebagai tempat terbaik untuk anak tumbuh, bahkan menurun empat peringkat dari tahun lalu menjadi posisi ke-105.
 
Posisi Indonesia masih berada di bawah beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura (1), Malaysia (67), Brunei Darussalam (68), Thailand (85), Vietnam (96) dan Filipina (104). 
 
Posisi Indonesia hanya berada di atas Myamar (107), Kamboja (118) dan Timor Leste (128).
 
Laporan berjudul The Many Faces of Exclusion ini membuat pengukuran negara-negara yang paling ramah anak dengan indikator terkait dengan perkawinan anak, kehamilan usia anak, dan kematian bayi baru lahir. 
 
Beberapa hasil indikator pengukuran mencatat, misalnya, 36 persen anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami stunting.
 
Jumlah ini nyaris seperempat dari jumlah rata-rata stunting di Asia Timur dan Pasifik. 
 
Angka lain yang juga harus dicermati adalah bahwa 26 dari 1000 anak tidak bertahan hidup sampai ulang tahun ke-5 mereka.
 
Selain itu, kesenjangan masih sangat tinggi di Indonesia, di mana anak-anak perempuan dari keluarga miskin 6 kali lipat kemungkinan melahirkan di usia muda dibandingkan anak perempuan dari keluarga kaya.
 
Krisis Akses Pendidikan
 
Ilustrasi anak sekolahyanukit Ilustrasi anak sekolah
Fakta lain yang disorot dari laporan ini adalah 14 persen anak usia sekolah di Indonesia tidak memiliki akses terhadap pendidikan.
 
Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik, mitra Save the Children, Selina Sumbung, mengungkapkan, sekitar 1 dari 7 anak usia sekolah, putus sekolah atau sama sekali tidak pernah bersekolah. 
 
"Hal ini menempatkan anak-anak tersebut di posisi yang sangat tidak baik, sebagai awal untuk memulai kehidupan," ungkap Selina, Jakarta, Kamis (28/6/2018).
 
Faktor anak-anak mengalami krisis pendidikan beragam, mulai dari kemiskinan, buruknya nutrisi di Indonesia dan masih tingginya angka stunting. 
 
Untuk anak-anak yang tinggal di daerah terpencil, misalnya, akses terhadap pendidikan juga terhambat karena ketiadaan fasilitas untuk anak dengan disabilitas. 
 
Padahal, menurut Selina, pendidikan merupakan hak dasar untuk semua anak, terlepas dari kondisi mereka dilahirkan dan bertumbuh. 
 
"Penting bagi semua anak untuk dapat bersekolah dan belajar, bermain dan berpartisipasi di dalam masyarakat,” ungkap Selina.
 
Sementara itu, Direktur Advokasi dan Kampanye YSTC, Tata Sudrajat mengungkapkan, untuk mengentaskan masalah ini, YSTC dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI meluncurkan kampanye Semua Anak Bisa Sekolah pada bulan Mei 2018, bertepatan sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional. 
 
"Kami berharap bersama-sama dengan semua komponen bangsa kita bisa mewujudkan pada tahun 2030, sehingga semua anak usia sekolah dapat mengenyam pendidikan yang gratis dan terjangkau, serta perlakuan yang setara untuk semua anak," ujar Tata.



Close Ads X