Pangan “Ultra-Proses”: Sukses Ekonomi Berbuah Kematian Dini Halaman 1 - Kompas.com

Pangan “Ultra-Proses”: Sukses Ekonomi Berbuah Kematian Dini

Kompas.com - 30/06/2018, 07:05 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

KOMPAS.com - Kita tinggal di negri yang teramat unik. Dari sekian banyak kekisruhan politik, kegaduhan ekonomi hingga kengerian penyakit katastropik, wajah-wajah semringah tak peduli mewarnai lembaran kehidupan dari hari ke hari.

Tak heran jika Indonesia berada di peringkat ke dua teratas dengan pelajar yang paling bahagia di dunia, sekali pun menempati nomor dua dari bawah untuk penilaian kemampuan akademik yang meliputi matematika, sains dan bahasa.

Ada hal yang juga tidak bisa masuk di akal saya, manakala para mahasiswa rumpun kesehatan begitu giras membuat kampanye pangan sehat, tapi mereka mengakui sebagai anak kos tak dapat mengelakkan diri dari gorengan hingga pangan kemasan yang katanya ‘praktis’.

Dari alasan tidak sempat dan tidak mampu mengolah pangan sendiri, hingga konsiderasi budget yang mepet (padahal mereka sesungguhnya belum pernah menghitung dengan cermat untung ruginya mengolah pangan sendiri).

Baca juga: Teror Kekisruhan Pangan, Bomnya Meledak Kemudian

Apa itu pangan ‘ultra proses’? Sama sekali bukan hal yang asing. Mulai dari roti yang diproduksi masal, berbagai cokelat kemasan, minuman bersoda hingga teh dalam kotak dan botol plastik yang beraneka aroma itu.

Bukan hanya itu, beragam bakso, nugget, mi instan dan sup dalam kantong, lauk beku dalam kotak yang siap dipanaskan, hingga semua jajanan serta minuman yang mengandung gula tinggi baik yang transparan maupun tersembunyi.

Deretan pangan tersebut telah dipublikasikan oleh BBC News tanggal 15 Februari tahun ini, yang membuat pembacanya terpaku sekaligus tercenung.

Tapi, barangkali lewat dari bahasan di negeri kita. Tertimpa oleh iklan yang justru mempromosikan konsumsinya, bahkan menampilkan wajah-wajah meyakinkan sebagai promotor.

Paparan bukan hanya terhadap orang dewasa. Tapi justru mengenai anak-anak, yang nalarnya belum sempurna dengan kemampuan memilih yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga: Mengapa Harus Mengandalkan Makanan Kemasan di Negeri yang Kaya?

Dari jurnal ilmiah yang diterbitkan Oxford, “Children's exposure to food advertising on free-to-air television: an Asia-Pacific perspective” para peneliti mengambil contoh 4 negara: Tiongkok, Malaysia, Korea Selatan dan Indonesia.

Yang amat mencengangkan, anak-anak Indonesia terpapar iklan pangan 3-4 kali lipat lebih tinggi ketimbang tiga negara lainnya, dengan 21 iklan makanan dalam 1 jam tayang televisi.

Sementara orang dewasanya, memperdebatkan siapa yang menjadi presiden, gubernur, bupati atau sekadar menikmati fasilitas khusus sebagai anggota dewan.

Tidak ada satu pun yang menyelamatkan anak-anak ini dari manisnya kematian melalui kenikmatan lidah – setelah sebelumnya didera kemunduran prestasi, obesitas, dan penyakit yang mendera di usia muda.

Data yang amat mengerikan itu pastinya mempunyai latar belakang yang lebih menakutkan di baliknya.

Baca juga: Kesehatan, Lahan Rentan Bisikan

Begitu kuatnya pengaruh dan perombakan total pola makan dan gaya hidup manusia, sudah direncanakan matang oleh pelaku industri dan ritel pangan yang selama sekian puluh tahun mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk ahli gizi.

Tidak lagi mengejutkan. bilamana masih ada beberapa pendapat yang secara berpihak menuduh jurnal kesehatan cenderung membuat orang lompat pada kesimpulan yang menyesatkan.

“Kita masih dalam perjalanan panjang untuk memahami dampak pemrosesan pangan hingga menyebabkan masalah kesehatan, jadi jangan buru-buru, lah!” begitu pendapat Martin Lajous dan Adriana Monge dari National Institute of Public Health di Meksiko.

Sementara Profesor Sanders dari King’s College London membedakan antara roti buatan sendiri di rumah yang disebutnya dengan istilah ‘artisan,’ sementara produk bakeri kenamaan barulah masuk kategori ultra-proses.

Baca juga: Ketika Hasil Panen Sekadar Komoditi, Bukan untuk Konsumsi Demi Gizi


Page:

Close Ads X