Dengkur Hilang, Jantung Sehat

Kompas.com - 16/07/2018, 20:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengatasi ngorok dengan alat CPAP (continuos positiv airway pressure) akan menurunkan resiko serangan jantung. Terutama pada pendengkur berusia di atas 60 tahun.

CPAP adalah sebuah unit mesin yang meniupkan tekanan positif untuk mengganjal saluran nafas agar tetap membuka selama tidur. Alat protabel ini dihubungkan dengan sebuah masker hidung yang digunakan saat tidur.

Publikasi bulan Juni 2018 pada the Journal of the American Heart Association, meneliti hubungan antara sleep apnea dengan gagal jantung. Sleep apnea adalah penyakit tidur yang biasanya menyertai pendengkur.

Mendengkur disebabkan oleh saluran nafas yang menyempit saat tidur. Pada kondisi yang lebih parah, saluran nafas menyempit hingga menghalangi jalan nafas. Terjadilah henti nafas saat tidur, sleep apnea. Henti nafas bisa berlangsung selama lebih dari 10 detik hingga satu menit lebih. Bayangkan kerja jantung saat ini terjadi.

Mendengkur sudah dianggap lebih berbahaya bagi kesehatan jantung. Sleep apnea telah lama dihubungkan dengan serangan jantung, stroke dan kematian mendadak. Para peneliti, kali ini mencoba melihat bagaimana beratnya kerja jantung hingga tubuh kekurangan oksigen akibat mendengkur.

Perawatan mendengkur

Setelah diagnosis dengan pemeriksaan tidur, dokter akan menentukan bentuk perawatan sleep apnea. Apakah lewat jalan pembedahan atau penggunaan dental appliances CPAP. Sementara ini penggunaan CPAP dianggap sebagai baku emas perawatan sleep apnea berat.

Dengan menggunakan data sistem kesehatan Denmark, para ahli melihat data 4,9 juta orang dewasa selama rentang 13 tahun. Di antaranya terdapat 40.485 penderita sleep apnea.

Peneliti mendapati bahwa pasien yang tak dirawat denan CPAP memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung. Ini didapati pada semua kelompok umur.

Khusus pada kelompok usia di atas 60 tahun, mereka yang tak gunakan CPAP, miliki resiko serangan jantung 38% lebih tinggi dibanding yang menggunakan CPAP.

Bayangkan, pendengkur di sekitar kita, setiap tidur mereka meningkatkan resiko serangan jantung. Mendengkur yang selama ini dianggap wajar oleh kebanyakan orang, ternyata menyimpan resiko yang berbahaya.

Para dokter yang merawat pasien-pasien dengan gangguan jantung harus melihat tidur pasien, dan menanyakan kebiasaan dengkur pada keluarga. Sementara dokter yang menangani sleep apnea juga harus melihat kondisi kesehatan jantung pasiennya.

Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kardiologi, Copenhagen University, Denmark ini menekankan pentingnya hubungan sebab akibat mendengkur dengan penyakit jantung, dan bagaimana perawatan mendengkur bisa menurunkan resiko serangan jantung.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X