Kurus, Gizi Buruk, Stunting: Wajah Ngeri Anak Indonesia

Kompas.com - 23/07/2018, 07:30 WIB
Ilustrasi anak laki-laki SHUTTERSTOCK.COMIlustrasi anak laki-laki
Editor Wisnubrata

Hak anak tumbuh sehat dimulai dari hak dan akses terhadap pangan sehat. Sehat bukan versi industri dan iklan. Sehat karena memang Tuhan sendiri yang menciptakannya. Ibu yang memilih dan meraciknya.

Makanan sehat tidak melulu sayur dan buah. Tapi juga protein hewan yang terjangkau, mulai dari telur, ayam dan ikan. Ditambah protein nabati yang ikut melengkapi: mulai dari kacang merah, hingga tempe dan tahu yang keamanannya terjamin.

Tenaga tumbuh didapat bukan dari jargon, melainkan juga dari sumber karbohidrat yang wajar di dapat dimana anak tersebut tumbuh kembang.

Perilaku membesarkan dan mengasuh anak tidak ada sekolahnya. Jika calon orang tua tidak mendapat asuhan berkualitas dari orang tuanya sendiri, tidak mempunyai referensi pangan sehat, mustahil ia sendiri mampu memiliki pola asuh berkarakter.

Saat calon orang tua tidak punya latar belakang mumpuni dan hanya belajar dari iklan, maka ia akan mempunyai referensi yang berat sebelah dan akhirnya membentuk preferensi, pilihan.

Baru saja kemarin saya mendengar ‘cara makan’ keluarga muda dengan kepala keluarga bekerja sebagai buruh pabrik. Sarapan pagi, cukup memanggil tukang bubur. Begitu pun anaknya yang masih balita ‘lebih suka bubur si abang’ ketimbang bubur buatan ibunya.

Makan siang, jatah sang ayah dipenuhi oleh tempatnya bekerja, sementara si ibu cukup merebus mi instan. Anaknya? Biskuit kemasan dengan susu kotak – yang menurut ibunya bergizi, tanpa harus susah payah baca label kandungan gula apalagi komposisinya.

Makan malam? Tinggal menunggu si ayah pulang, yang mampir ke warung beli nasi goreng atau pecel lele. Menurut mereka, ini gaya hidup praktis dan ekonomis. Uangnya bisa ditabung buat cicilan motor dan bayar listrik.

Keluarga seperti itu jelas tidak akan menghasilkan anak yang gesit, berempati, apalagi unggul dan sehat. Memperbaiki jutaan keluarga muda yang seperti itu pun tidak bisa dengan sosialisasi dan ceramah apalagi acara bagi-bagi biskuit yang semakin menegaskan biskuit itu ‘sehat’.

Dibutuhkan kerja keras semua lini dan instansi, yang turun memberi contoh dan bimbingan – serta menunjukkan hasil dari jerih payah atas upaya sekian bulan bahkan sekian tahun.

Publik amat melek hasil. Dan bila hasilnya jauh lebih baik dan menuai banyak keuntungan ketimbang hidup praktis, siapa yang sudi balik ke pola yang lama?

Tidak perlu studi banding ke negri bule yang jauh dan punya norma beda. Cukup belajar dari Singapura yang membersihkan sungainya secara konsisten karena perubahan perilaku.

Juga Jepang yang selepas perang dunia ke 2 fokus memperbaiki gizi masyarakat, hingga tentara ‘kate’ nya sekarang berubah wujud menjadi foto model papan atas dan ilmuwan kaliber dunia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X