Kerja 4 Hari Seminggu, Produktivitas Karyawan Meningkat

Kompas.com - 24/07/2018, 18:00 WIB
Ilustrasi karyawan.ist Ilustrasi karyawan.

Baca juga: 4 Kiat Menemukan Busana Kerja yang Tepat saat Cuaca Panas

"Statistik menunjukkan staf saya sangat bangga dengan perusahaan tempat mereka bekerja, karena memberi mereka waktu kerja yang tak banyak," tambahnya.

Berdasarkan hasil riset tahun 2017, hanya 54 persen karyawan yang mampu mempertahankan keseimbangan kehidupan kerja yang sehat.

Namun, setelah dua bulan sistem kerja empat hari dipraktikkan, statistik tersebut meroket menjadi 78 persen.

Kabar baiknya lagi, tingkat stres karyawan turun tujuh persen, dan keterlibatan di tempat kerja naik 20 persen.

Psikolog, Dr Danielle Forshee mengatakan, otak manusia tak bisa bekerja maksimal setelah dituntut kerja selama 40 jam dalam seminggu, -atau setara dengan lima hari kerja.

"Kita bisa melakukan hal terbaik ketika telah beristirahat dengan cukup dan telah mengurus hal-hal pribadi dalam hidup," papar Forshee.

Ia juga menambahkan, otak manusia bisa bekerja maksimal ketika siap secara fisik, mental dan emosional, serta memiliki cukup waktu untuk mengurus semua hal tersebut.

Baca juga: Mengomel di Tempat Kerja Bisa Kurangi Stres

Menurut dia, otak manusia tidak dibentuk untuk bekerja dalam waktu yang telah ditetapkan oleh mayoritas perusahaan selama ini.

Bekerja selama 40 jam dalam seminggu, menurut pakar, tidak realistis untuk fungsi otak.

Dalam sehari, manusia hanya bekerja selama delapan jam. Dengan sistem lima hari kerja dalam seminggu, jumlah jam kerja yang terkumpul telah mencapai 40 jam.

Maka, bukan hal yang aneh jika karyawan kerap merasa malas bekerja saat hari Senin, atau ketika hari Jumat tiba.

"Penurunan kinerja menjelang akhir pekan adalah hal yang tak dapat dielakkan," kata Forshee.

Halaman:



Close Ads X