Kompas.com - 25/07/2018, 15:15 WIB

Pada awal 1900, kata Blackman, pria selalu memakai dasi, misalnya dasi kupu-kupu untuk acara sangat formal, ascot untuk acara semi formal, dan dasi panjang dalam lingkungan bisnis.

Sejak saat itulah pemakain dasi terus bertahan. Namun, miliarder sekelas Mark Zuckerberg dan Steve Jobs berhasil menggeser hierarki dan kebiasaan sosial itu di Amerika.

Richard Kirshenbaum, CEO agensi iklan yang terkenal dengan gaya khas Eropa tanpa dasi, memaparkan jika dasi mengandung makna tertentu.

"Profesi seperti bankir sangat konservatif dan mewajibkan akuntan memakai jas dan dasi," paparnya.

Namun, mereka yang bekerja dalam industri kreatif tak diwajibkan untuk memakainya.

"Memakai saputangan di saku jas menjadi tren pengganti dasi di tahun 2018 ini," tambahnya.

Sayangnya, masih banyak orang yang lebih menyukai dasi. Mereka menganggap memakai dasi adalah upaya agar tampil lebih baik di hadapan para kliennya.

Foley, seorang pekerja bank di New York adalah salah satu pekerja yang masih menganggap dasi sebagai pakaian wajib.

"Meski klien meminta saya untuk memakai pakaian casual, saya tetap memakai dasi," paparnya.

Ia mengakui jika dirinya sering menderita sakit kepala, leher pegal dan linu.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber nypost.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.