"Anak Laki-laki Pilih Mainan Boneka? Jangan Langsung Parno..."

Kompas.com - 02/08/2018, 12:00 WIB
Dari kiri, Marketing & Communication Manager ELC Abi Shihab, dr Bernie Endyarnie SpA(K) dan artis peran Sigi Wimala saat konferensi pers Play Like A Champion ELC, Jakarta, Rabu (1/8/2018). KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYADari kiri, Marketing & Communication Manager ELC Abi Shihab, dr Bernie Endyarnie SpA(K) dan artis peran Sigi Wimala saat konferensi pers Play Like A Champion ELC, Jakarta, Rabu (1/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak jarang orangtua merasa panik ketika anak memilih mainan beda gender, seperti anak perempuan memilih mobil-mobilan atau anak laki-laki memilih boneka.

Padahal, menurut dokter Bernie Endyarnie SpA(K), orangtua tak perlu panik, apalagi langsung melarang dengan keras.

“Sebagai orangtua, sebaiknya jangan terlalu parno (ketakutan), saat anak laki-laki (misalnya) main boneka,” ungkap Bernie saat acara ELC, Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Bernie mengungkapkan, pada dasarnya semua anak memiliki rasa ingin tahu dan eksplorasi hal-hal baru, termasuk soal mainan.

Satu hal yang harus diinget, pemikiran anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa yang sudah terbentuk soal gender.

Baca juga: Apakah Pakaian Netral Gender adalah Fashion Masa Depan?

Saat melihat boneka, misalnya, tidak tertutup kemungkinan seorang bocah lelaki akan merasa tertarik. Sebab, sesuatu yang baru atau bentuk dan warna unik adalah daya tarik bagi setiap anak.

Demikian pula pada anak perempuan. Mungkin, mereka tertarik dengan mainan mobil-mobilan karena dapat bergerak dan mengundang perhatian.

Bernie menyarankan, jika memang anak tertarik, seperti anak pria ingin main masak-masakan, maka ajak dan libatkan.

“Saat diajak, orangtua bisa kasih peran kalau anak pria potong-potong karena lebih berat, misalnya,” ujar Bernie.

Dia tidak menganjurkan orangtua melarang dengan keras, yang justru membuat eksplorasi anak terbatas.

Orangtua, lanjut Bernie, bisa mulai mengajak anak bermain sesuai gender secara perlahan.

Ibu, misalnya, menjadi role model untuk anak perempuan, sementara bapak untuk anak laki-laki.

“Kalau punya anak laki-laki, si ayah ngajak, besok kan mau perbaiki mobil, mau enggak kita beli juga untuk alat-alatnya. Jadi di situ tugas orangtua mengajak dan mengajarkan preferensi sesuai gender,” ujar Bernie.

Baca juga: Mainan Anak Asal China Banjiri Pasar Lokal

Sementara itu, Abi Shihab, Marketing & Communication Manager ELC, mengungkapkan ELC selama ini berusaha tidak mengkotak-kotakan mainan dengan gender.

“Dari ELC sendiri, setiap campaign, jika mainan masak-masakan, ada model cowok di situ. Atau boneka-bonekaan, ada cowok juga mendorong boneka,” kata Abi.

“Jadi tidak mengotak-kotakan mainan laki-laki atau perempuan, atau juga biru dan pink.”

Secara tidak langsung, kata Abi, mainan bersifat universal.

Selain itu, masing-masing anak mendapat pengetahuan, seperti anak laki-laki mengetahui tugas ibu di dapur, atau anak perempuan tahu kalau mobil perlu bensin.

“Jadi konsep seperti itu yang diambil. Lebih ke pengetahuan dan pengenalan secara umum,” kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X