Langkah "Personal" Memulihkan Trauma Pasca Bencana

Kompas.com - 09/08/2018, 23:00 WIB
Pengungsi bersiap sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPengungsi bersiap sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah.

KOMPAS.com - Beberapa hari lalu, gempa bumi yang mengguncang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan mengakibatkan kerusakan besar, serta menelan banyak korban jiwa.

Baca juga: 7 Fakta Terbaru Gempa Lombok, dari Gempa Susulan hingga Pencuri Merajalela

Mereka yang terdampak bencana gempa mengungsi ke tempat-tempat aman. Bagi yang terdampak dan selamat dari kejadian ini tentu ada trauma yang membekas. 

Gangguan trauma pasca bencana adalah sebuah kondisi gangguan kesehatan mental akibat peristiwa mengerikan. 

Hal ini juga terjadi pada peristiwa bencana alam, seperti gempa bumi.

Trauma bisa dialami sendiri, atau pun disaksikan secara langsung oleh seseorang. Pada gilirannya, korban bencana pun biasanya rentan terhadap stres.

Laman Meetdoctor menguraikan sejumlah langkah yang dapat diambil untuk membantu memulihkan kondisi psikologis dari pengalaman traumatis.

Baca juga: BERITA FOTO: Suasana Terkini Pasca-Gempa Susulan Bermagnitudo 6,2 di Lombok NTB

Salah satunya adalah sebisa mungkin meminimalkan paparan media yang memberitakan tentang bencana tersebut. 

Memang ada sebagian orang yang dapat dengan mengontrol perasaan dengan menonton liputan media, atau dengan mengamati upaya pemulihan.

Namun banyak juga yang malah teringat kembali kejadian mengerikan yang mereka alami, jika menonton tayangan atau membaca hasil iputan media.

Ekspos berlebihan terhadap gambar peristiwa —seperti berulang kali memutar klip video di media sosial atau situs berita — dapat menciptakan tekanan traumatis pada orang-orang yang tidak terpengaruh langsung.

Halaman:


Sumber Meetdoctor
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X