Ma'ruf Amin, Sarung, dan Kearifan Lokal... - Kompas.com

Ma'ruf Amin, Sarung, dan Kearifan Lokal...

Kompas.com - 10/08/2018, 16:45 WIB
Pasangan Joko Widodo dan Maruf Amin didampingi tokoh partai pendukung resmi mendaftarkan diri  sebagai bakal capres dan cawapres di Komisi Pemilihan Umum RI, Jakarta, Jumat, (10/8/2018).KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Pasangan Joko Widodo dan Maruf Amin didampingi tokoh partai pendukung resmi mendaftarkan diri sebagai bakal capres dan cawapres di Komisi Pemilihan Umum RI, Jakarta, Jumat, (10/8/2018).
JAKARTA, KOMPAS.com - Calon presiden dalam Pemilihan Umum 2019, Joko Widodo akhirnya menggandeng sosok ulama senior, Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden.
 
Ma'ruf, selain jamak dikenal sebagai pribadi religus, pun identik dengan sarung.
 
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini hampir di setiap kesempatan terlihat mengenakan sarung, tak terkecuali saat mengikuti acara-acara resmi.
 
Termasuk ketika dia datang mendaftarkan diri bersama Jokowi sebagai pasangan capres- cawapres ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8/2018).
 
Ma'ruf terlihat mengenakan sarung hijau yang dipadukan dengan jas, baju dan sorban putih, lengkap bersama peci hitam di kepala.
 
Perancang busana Indonesia Samuel Wattimena mengungkapkan, selain erat dengan agama, sarung memang identik dengan busana Nusantara sejak dulu.
 
Bahkan, sebelum masuk bangsa Eropa--Portugis, Inggris dan Belanda--sarung atau pun kain erat dengan busana Nusantara. 
 
 
"Pakaian gaya Eropa dianggap intelek, sebaliknya sarung tidak," kata Samuel kepada Kompas.com, Jakarta, Jumat (10/8/2018).
 
Perlahan, kata dia, khususnya di kota-kota besar, masyarakat pun meninggalkan sarung sebagai pilihan berbusana.
 
Tersisa masyarakat di kampung-kampung yang jamak menggunakan sarung karena keterbatasan produksi.
 
Lalu sayangnya, anggapan soal sarung tak modern itu masih terjadi hingga saat ini, sehingga nama sarung pun praktis 'hilang' dari pilihan berbusana sehari-hari. Satu kebiasaan yang masih tertinggal adalah penggunaan sarung saat ibadah keagamaan.
 
Di sisi lain, sarung, menurut Samuel, merupakan bagian dari cara hidup eco-living.
 
"Kain, termasuk sarung, memiliki beberapa keuntungan seperti penyimpanan dan membersihkan mudah. Lalu bisa disesuaikan dengan ukuran badan," kata Samuel.
 
"Berbeda kalau bikin celana dan rok. Kalau badan berubah, kan harus beli baru atau dibesarkan pun dikecilkan, sehingga tidak berkelanjutan, karena menyisakan bahan."
 
Samuel pun mengapresiasi pilihan Ma'ruf Amin yang konsisten dengan sarung. Dia berharap pilihan tersebut bisa menjadi sesuatu kearifan lokal dalam berbusana, yang perlu dilestarikan.
 
 
Sarung, pada saatnya, tak sekadar dilihat dari sisi keagamaan, namun secara nasionalis.
 
"Seperti saya pakai peci ke mana-mana karena ingin menggambarkan karakteristik Indonesia, bukan kepercayaan. Saya tidak merasa membatasi itu," ujar Samuel.
 
Khusus untuk sarung, Samuel mengungkapkan ada ragam opsi cara pakai untuk membuat lebih menarik dalam berbusana.
 
Mulai dari digulung dilipat setengah seperti shalat, lalu diikat seperti sarung di daerah pesisir.
 
Kemudian bisa juga memadukan dengan kemeja dipakai di luar sarung, kemeja di dalam sarung, lalu memakai pinggang besar, pun dipadu dengan jas seperti Ma'ruf.
 
Jika ingin lebih modern, maka bisa memakai celana panjang chino lalu dipadukan dengan sarung sebetis dengan atasan kemeja.

Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X