Kompas.com - 13/08/2018, 12:00 WIB
Ilustrasi lansia DragonImagesIlustrasi lansia

KOMPAS.com - Faktor penting dalam pengendalian diabetes melitus adalah pemahaman tentang penyakit dan perubahan gaya hidup.

Itu sebabnya dibutuhkan dukungan dari keluarga penyandang diabetes atau biasa disebut diabetesi.

Dalam sebuah survei terungkap 85,7 persen responden mengaku butuh dukungan dari keluarga dan teman terdekatnya agar dapat menjalankan gaya hidup sehat dan mengontrol penyakitnya.

Survei itu diadakan aplikasi Teman Diabetes terhadap 220 orang dengan kategori prediabetes, diabetesi dan anggota keluarganya.

Dukungan bisa diberikan dalam bentuk menemani berobat, bersama-sama ikut mengubah pola makan menjadi lebih sehat, berolahraga bersama, atau mengingatkan untuk mengontrol kadar gula darah.

Dukungan dari orang terdekat, menurut Dr.Aris Wibudi, Sp.PD, tanpa dukungan keluarga pasien akan merasa terisolasi.

"Diabetes bukan sekedar kelola gula darah, tapi juga kelola gaya hidup," kata dokter yang menjadi Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia ini.

Ia menambahkan, dukungan dari rumah sakit dan dokter juga penting.

"Penelitian di RSPAD Gatot Subroto menunjukkan, pasien yang diedukasi oleh dokternya lebih rajin kontrol berobat," kata Aris.

Baca juga: Kontrol Gula Darah Kini Bisa Lewat Aplikasi

Aktris Dinda KanyadewiDok Teman Diabetes Aktris Dinda Kanyadewi
Salah seorang diabetesi, Emanuel Andi mengatakan dukungan dari keluarga dan teman-teman sangat membantunya untuk mengubah pola hidup.

"Setelah tahu saya diabetes, besoknya istri mengganti nasi putih dengan nasi merah. Di kantor juga ada teman yang diabetes, jadi bisa saling mengingatkan, terutama untuk menjaga pola makan," kata Andi yang sudah 5 tahun hidup dengan diabetes ini.

Dampingi ibu

Berasal dari keluarga penyandang diabetes, aktris Dinda Kanyadewi mengaku ikut menyesuaikan pola makannya bagi almarhum ibu dan kakaknya yang diabetesi.

"Saya 5 bersaudara, kakak yang paling besar diabetes dan sudah 1,5 tahun pakai insulin. Mama terkena diabetes di usia 40 tahun sampai akhirnya meninggal karena komplikasi jantung di tahun 2014," ujar Dinda.

Selain menjaga pola makan, Dinda juga rutin menyuntikkan insulin untuk sang ibu.

"Jangan pernah capek untuk mendampingi keluarga yang diabetes, dukungan kita penting untuk mereka," katanya.

Karena banyaknya anggota keluarga yang menyandang diabetes, Dinda pun mengaku kini berusaha hidup lebih sehat.

"Dokter bilang kalau saya tidak menjaga pola makan, kemungkinan juga bisa kena diabetes," ujarnya.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X