Kompas.com - 19/08/2018, 14:48 WIB
Ilustrasi kegemukan CreativaImagesIlustrasi kegemukan
Editor Wisnubrata

 

 

 

KOMPAS.com - Penyakit kronis tidak menular seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes selama ini dijuluki sebagai “penyakit kakek-nenek”. Namun dari tahun ke tahun, makin banyak temuan diagnosis penyakit kronis pada remaja dan anak-anak usia belia.

Serangan penyakit itu semakin ke sini seolah tidak kenal usia. Maka mereka yang berusia remaja sebenarnya tidak benar-benar terbebas dari risiko penyakit kronis.

Data dari Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa dari 25,8 persen total kasus hipertensi nasional, kurang lebih 5,3% di antaranya terjadi pada remaja berusia 15-17 tahun; laki-laki 6% dan perempuan 4,7%.

Sementara itu, 5,9% anak Indonesia berumur 15-24 tahun mengidap asma. Sementara kasus diabetes pada anak di bawah 18 tahun mengalami peningkatan yang sangat tinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu hingga 500% dari sebelumnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kenapa Banyak Orang Indonesia yang Kena Diabetes?

Menyambung data Riskesdas 2013, penyakit kronis tidak menular menyebabkan 71 persen dari total kematian. Termasuk di antaranya penyakit jantung (37 persen), kanker (13 persen), penyakit pernapasan kronik seperti asma dan PPOK (5 persen), diabetes (6 persen), dan penyakit kronis lainnya (10 persen).

Ilustrasi makanan maniskwanchaichaiudom Ilustrasi makanan manis
Risiko penyakit kronis umumnya dipengaruhi oleh genetik turunan dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Namun khusus pada remaja, faktor risiko utamanya adalah gaya hidup buruk seperti merokok, kebiasaan makan tidak sehat, dan kurang gerak.

Hal tersebut diungkapkan dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA, Kepala Sub Direktorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi, Direktorat Penyakit Tidak Menular, Direktorat, Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI seperti dikutip Hello Sehat.

Baca juga: 6 Pola Makan untuk Gaya Hidup Sehat Agar Usia Lebih Panjang

Berdasarkan data Riskesdas 2013, perokok anak usia 15 tahun ke atas sebesar 36.6 persen. Pada 2016, angka ini meningkat hingga 54 persen dari sekitar 65 juta remaja di Indonesia.

Merokok dan kurang gerak dapat meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menghambat aliran darah ke jantung. Pola makan buruk (tinggi kalori, lemak, kolesterol, gula, dan garam) dapat memicu penumpukan plak dalam pembuluh.

Semua elemen dari gaya tidak hidup sehat ini sama-sama mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan mengeras, sebuah kondisi yang disebut sebagai aterosklerosis, yang membuat jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah. Lama-lama tekanan darah akan naik terus hingga berisiko hipertensi.

Ilustrasi makan keripik kentangThinkStock/gpointstudio Ilustrasi makan keripik kentang
Gaya hidup tidak sehat juga dapat mengacaukan produksi hormon dan enzim tubuh, termasuk produksi insulin. Padahal, insulin berperan penting untuk mengatur gula darah dan tekanan darah.

Peningkatan kadar gula darah yang tidak terkendali dapat memicu gejala diabetes sekaligus menyebabkan kerusakan pembuluh darah kapiler. Kerusakan kapiler bisa mengganggu kerja ginjal untuk mengatur tekanan darah, yang mana akan meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi.

Baca juga: Mengenali Hipertensi pada Anak dan Kaum Dewasa Muda

Diabetes dan hipertensi adalah “orang tua” dari berbagai kemunculan penyakit kronis lainnya, seperti penyakit jantung dan stroke. Gaya hidup tidak sehat menyumbang hingga 80 persen dari penyebab kemunculan penyakit kronis di usia muda.

Terapkan strategi CERDIK untuk kurangi risiko penyakit kronis sejak muda

Ilustrasi makan setelah olahragahalfbottle Ilustrasi makan setelah olahraga
Memulai gaya hidup sehat memang tidak mudah. Namun, jika sudah komitmen dan yakin untuk mengubah gaya hidup lebih sehat, itu akan terasa mudah.

Baca juga: Memulai Hidup Sehat Bisa dengan Langkah-Langkah Ini

“Untuk semakin memudahkan masyarakat mulai menjalani gaya hidup sehat, Kemenkes mencanangkan prinsip CERDIK,” ungkap dr. Sandra.

Gerakan CERDIK sendiri adalah singkatan dari:

  • Cek kondisi kesehatan secara berkala, termasuk berat dan tinggi badan sampai kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Cek kesehatan rutin sudah bisa dimulai sejak usia 15 tahun, setahun sekali, untuk mendeteksi risiko terhadap penyakit. Jika sudah berisiko penyakit kronis, baiknya periksakan kesehatan lebih sering.
  • Enyahkan asap rokok dan berhenti merokok.
  • Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari, seperti olahraga, berjalan kaki, membersihkan rumah. Lakukan aktivitas fisik dengan teratur.
  • Diet dengan gizi seimbang, konsumsi makanan sehat, makan buah sayur yang cukup, hindari makanan manis yang berlebihan dan minuman berkarbonasi.
  • Istirahat yang cukup, pastikan mendapatkan tidur yang cukup dalam sehari, setidaknya tidak kurang dari tujuh atau delapan jam.
  • Kelola stres dengan baik.

Prinsip CERDIK juga dapat sekaligus meminimalisir atau bahkan membatalkan faktor risiko penyakit kronis yang sudah dimiliki, misalnya tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi. Bahkan olahraga saja sudah dapat membantu menurunkan tekanan darah, tutup dr. Sandra.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X