Sahabat, Menjaga Asa Pangkas Rambut Klasik di Tengah Modernitas...

Kompas.com - 25/08/2018, 22:13 WIB
Pangkas rambut Sahabat KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYAPangkas rambut Sahabat

MALANG, KOMPAS.com - Boleh dibilang, hampir di setiap sudut kota-kota besar kini bisa ditemukan pangkas rambut berkonsep modern.

Dengan menyebut dirinya sebagai barbershop, mereka menjelma menjadi ‘teman’ bagi kalangan muda

Lantas, bagaimana nasib para pangkas rambut yang sempat menjadi ‘teman’ kalangan muda—kini sudah berusia lanjut—dahulu?

Kompas.com, dalam Chief Barber Voyage 2018, berkesempatan menemui salah satu pangkas rambut tertua di Malang—Sahabat.

Berdiri sejak 1965, Sahabat didirikan warga keturunan Tionghoa, Chen Chung Ren. Di masanya, Sahabat menjadi pangkas rambut idola. 

Pangkas rambut SahabatKOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Pangkas rambut Sahabat

Sebagian besar adalah warga Malang, dan sisanya adalah turis yang kebetulan menyambangi Kota Apel itu.

Sahabat kini dipegang generasi keempat, cicit dari Chung Ren—Ling-Ling, yang kini menetap di Kediri, Jawa Timur.

Kendati di bawah Ling, Sahabat diurus penuh oleh para pemangkas yang sudah berusia lanjut—Subakri (86), Muhammad Nur (68) dan Sukadi (68).

Baca juga: Mencari Akar Seni Pangkas Rambut Indonesia...

Sukardi berkisah, sejak berdirinya, Sahabat sudah tiga kali berpindah tempat, hingga kini berlokasi di kompleks pertokoan Kayutangan.

Momentum paling ramai adalah tahun 1970-an hingga menjelang tahun 2000.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X