Mengenal Rhesus Negatif, Bukan Kelainan Darah dan Tidak Berbahaya - Kompas.com

Mengenal Rhesus Negatif, Bukan Kelainan Darah dan Tidak Berbahaya

Kompas.com - 28/08/2018, 10:33 WIB
Ilustrasi.Thinkstock Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam sistem ABO golongan darah manusia terdapat 4 golongan darah, yakni A, B, AB, dan O.

Selain itu, ada pula sistem penggolongan darah berdasarkan rhesus yaitu rhesus positif rh (+) dan rhesus negatif rh (-).

Dengan demikian, ragam golongan darah saat ini menjadi A(+), A(-), B(+), B(-), AB(+), AB(-), dan O(+), dan O(-).

Ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia Lici Murniati mengatakan, manusia yang memiliki rhesus negatif memang jarang ditemukan.

“Seluruh dunia hanya 15 persen. Di Indonesia diperkirakan hanya di bawah 1 persen dari total penduduk Indonesia,” ujar Lici saat dihubungi Kompas.com, Senin (27/8/2018).

Sementara itu, dihubungi terpisah, dokter ahli transfusi, Dr.dr. Ni Ken Ritchie, M.Biomed, mengatakan, meski langka, rhesus negatif bukan merupakan kelainan atau sesuatu membahayakan tubuh.

“Rh negatif bukan penyakit dan tidak membahayakan. Semua sama saja kok dengan orang rhesus positif. Hanya untuk transfusi yang harus hati-hati,” ujar Ni Ken, kepada Kompas.com, Senin malam.

Transfusi darah kepada pemilik rh (-) harus berhati-hati karena mereka tidak dapat menerima donor dengan jenis rhesus yang berlainan.

“Tubuh kita mengenali apa yang dipunyainya. Kalau terpapar atau ditransfusi oleh antigen yang tidak dikenalnya maka tubuh akan membuat antibodi (mekanisme pertahanan tubuh dari benda asing seperti kalau terinfeksi kuman akan membentuk antibodi),” papar dia.

Ni Ken melanjutkan, golongan darah ditentukan oleh antigen atau penanda yang ada di permukaan sel darah merah.

Rh (+) memiliki antigen D, sementara Rh (-) tidak memiliki antigen D.

“Karena tidak punya antigen D, maka kalau ditransfusi rhesus positif (yg ada antigen D) maka orang rhesus negatif membentuk antibodi yang disebut anti-D,” kata Ni Ken.

Kemampuan membentuk antibodi ini akan disimpan dalam memori tubuh seseorang sehingga jika dilakukan transfusi beda rhesus untuk keduakalinya dapat terjadi reaksi transfusi pada orang tersebut.

“Antigen D pada darah yang ditransfusikan bereaksi dengan anti-D pada tubuh pasien. Kalau ada reaksi antigen-antibodi ini maka sel darah merah yang ditransfusikan akan rusak atau pecah, biasa disebut hemolisis,” kata Ni Ken.

Adapun gejala yang muncul jika seseorang mengalami hemolisis adalah nilai hemoglobin pasien tidak naik atau turun dan pasien bisa mengalami kuning.

Oleh karena itu, setiap orang penting untuk mengetahui rhesus darah yang dimilikinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat melakukan transfusi darah.

Untuk mengetahui rhesus darah, kita hanya perlu datang ke pusat pelayanan kesehatan baik setingkat Puskesmas maupun rumah sakit, kemudian melakukan cek darah biasa dan menanyakan rhesus apa yang ada dalam darah mereka.

Jika dalam keadaan mendesak dan mengancam keselamatan jiwa, transfusi rhesus darah berbeda bisa dilakukan.

Alasannya, jumlah persediaan darah rh (-) yang tidak selalu memadai mengingat jumlahnya sebagai golongan darah minoritas.

“Untuk DKI Jakarta cukup aman kecuali kalau ada peningkatan permintaan. Tapi untuk daerah lain terutama yang kota kecil, cukup sulit. Mereka akan minta ke kota besar dan kadang sampai ke DKI juga,” ujar Ni Ken.

Untuk menyosialisasikan soal rhesus negatif ini, komunitas Rhesus Negatif Indonesia menyebarkan awareness serta informasi seputar rhesus darah melalui berbagai saluran, seperti situs rhesusnegatif.com, akun twitter @rhesusnegatifID, serta laman Facebook Blood Group Rhesus Negatif.

Kompas TV Sejak usianya 17 tahun sampai sekarang, Didi Agustinus yang juga Sekretaris PMI Kota Banda Aceh ini sudah ratusan kali jadi donor darah.


Terkini Lainnya


Close Ads X