Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah, serta Snoring & Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine.

Kurang Tidur, Penyebab Gemuk yang Tak Disadari

Kompas.com - 05/09/2018, 15:13 WIB
Ilustrasi menimbang berat badan DelpixartIlustrasi menimbang berat badan

Para ahli telah menyepakati kebutuhan tidur manusia adalah 7-8 jam sehari. Dari penelitian ini didapati bahwa semakin kurang durasi tidur (<7 jam), semakin tinggi kenaikan berat badan.

Sementara sekelompok peneliti di Swedia melihat bahwa kurang tidur akan mengganggu metabolisme hingga meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyimpan lemak!

Publikasi pada jurnal Science Advances ini melihat 15 orang subyek yang dua kali diperiksa. Pertama saat tidur normal, dan kedua setelah tidak tidur semalaman. Sampel jaringan lemak, otot dan darah diperiksakan.

Setelah kurang tidur, jaringan lemak manusia menunjukkan perubahan aktivitas gen yang mendorong sel untuk menyimpan lemak dan menggandakan diri (proliferasi).

Sementara otot mengalami pengurangan struktur protein yang dibutuhkan untuk membangun dan mempertahankan massa otot.

Sebagai tambahan, para peneliti juga menemukan peningkatan inflamasi tubuh saat kekurangan tidur. Inflamasi ini diketahui sebagai faktor risiko diabetes tipe 2.

Pembahasan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selama ini para ahli telah mengetahui hubungan antara kekurangan tidur dan kerja shift dengan obesitas dan diabetes. Tidur yang tak sehat akan sebabkan gangguan pada hormon yang mengontrol selera makan dan rasa kenyang.

Mereka yang kurang tidur, tentu akan terlalu lelah untuk berolah raga dan lebih memilih makanan berkalori tinggi.

Bukti-bukti yang terus bertambah, menunjukkan bahwa buruknya kesehatan tidur akan akibatkan kegemukan. Belum lagi, obesitas sendiri merupakan faktor resiko yang memperburuk dengkuran dan akibatkan sleep apnea.

Kita tahu bahwa sleep apnea adalah penyebab dari hipertensi, berbagai penyakit jantung, stroke, kematian dan gangguan ereksi.

Para ahli masih terus meneliti dan mencoba mencari solusi masalah kesehatan ini, mengingat kehidupan modern yang terus mendorong irama kehidupan 24 jam. Haruskah kita menyerah pada jam biologis dan meniadakan shift malam? Ataukah di masa depan kita benar-benar bisa mengalahkan segala efek negatif dari gangguan tidur?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.