Niat Cepat Sehat: Kebiasaan Memberi Kail atau Ikan? Halaman 1 - Kompas.com

Niat Cepat Sehat: Kebiasaan Memberi Kail atau Ikan?

Kompas.com - 07/09/2018, 19:07 WIB
Ilustrasi.Shutterstock Ilustrasi.

KOMPAS.com - Seperti dikutip dari organisasi kesehatan dunia WHO, sehat itu bukan soal fisik bugar belaka. Itu pun barangkali kebugaran tampil sesaat karena habis mandi pagi.

Tampilan hitungan menit yang cepat berubah jika ekonomi tidak sehat dan politik berubah setiap saat.

Tulisan ini masih membawa nuansa bencana, yang tak henti-hentinya mendera Nusantara. Bencana akibat perbuatan manusia maupun bencana akibat alam yang sedang berencana, menggeser lempeng dasar bumi.

Bertepatan dengan bencana harga, saat ekonomi digoyang kekuasaan dolar. Pasar kian latah, nilai jual barang konsumsi sehari-hari pun ikut bertingkah.

Baca juga: Gempa Lombok: Bukan Sekadar Retaknya Jalanan dan Runtuhnya Rumah

Kondisi di atas sebetulnya tidak akan memberi pengaruh banyak bagi penduduk desa, yang tinggal mengambil sayur dan buah dari kebunnya sendiri dan ayamnya masih diberi makan jagung serta dedak.

Begitu pula jika nelayan masih makan hasil tangkapannya sendiri, bukan dijual demi satu dus mi instan yang terigunya saja impor.

Yang pasti menjerit tentunya orang kota, yang barang konsumsinya tidak ada satu pun yang tak terdampak dolar. Bahkan, pakan ayam dari peternak pun katanya masih impor.

Kerupuk putih yang biasa dibeli di warung pun, tepung tapiokanya dibeli dari Vietnam – begitu ujar pasien saya yang juragan kerupuk!

Begitu tidak berdayanya-kah kita, atau begitu malasnya-kah bangsa ini untuk mengolah segala sesuatu dengan keringat sendiri tanpa harus tergantung pada campur tangan bangsa lain?

Baca juga: Gizi Minimalis: Timpangnya Literasi dan Supervisi

Pikiran saya kembali pada evaluasi tanggap bencana Lombok, saat ibu-ibu harus belajar memberi bayi dan anaknya makanan yang tumbuh di halaman mereka, untuk tidak malu menjadi mampu.

Merupakan tamparan keras bagi siapa pun yang bergerak di gizi masyarakat, ketika bencana datang lalu rakyat yang terdampak menjerit menuntut makanan kemasan – bukan minta dikirim bahan makanan agar dapur ngepul.

Terlena dengan kepraktisan hidup, seperti seakan-akan Tuhan memberi bayi dalam kantong ari-ari dan langsung bisa tumbuh jadi sarjana.

Makan hanya dianggap ritual pengisi perut. Apa saja bisa masuk asal ada label halal dan cap BPOM.

Sama seperti pasien ada yang mengeluh,”Kenapa sih makan saja harus ribet. Saya ini orang praktis dan simpel, dok...”. Saya sampai tercenung lebih lama dibanding saat menjawab pertanyaan penguji disertasi.

Teknologi membuat manusia kian tidak berdaya. Pun saat tertantang menghadapi kebutuhannya sendiri.

Alih-alih menjadi penentu masa depannya, bisa jadi manusia jaman ini justru ditentukan masa depannya oleh imbas teknologi.

Baca juga: Kurus, Gizi Buruk, Stunting: Wajah Ngeri Anak Indonesia

Sepanjang pagi ini bertebaran info grafis anjuran memperketat impor dan kembali mengonsumsi produk lokal. Rasanya mau ‘tepok jidat’.

Ibarat tubuh sudah terlalu lama terinfeksi kuman tifus, demam sudah jadi kejang dan usus halus sudah tipis hampir perforasi – dan anjuran ke pasien: “Kurangi jajan ya... jika mau jajan, jajanlah yang sehat...”

Kantor berita asing Bloomberg baru saja merilis berita tentang parahnya produk pangan impor menguasai Indonesia yang bukan hanya dalam bentuk jadi, tapi unsur bahan baku yang telah meninabobokan bangsa ini selama puluhan tahun.

Anak-anak mengira mi kita adalah produk lokal (sebab diberi label lokal), seakan-akan mereka bisa saksikan gandum tumbuh di khatulistiwa.


Remaja berpikir bolpen, sepatu dan tas mereka juga hasil pabrik dalam negri – karena tertulis ‘made in Indonesia’ – tak mampu berpikir kritis bahwa kita ini hanya bangsa perakit.

Baca juga: Pangan ?Ultra-Proses?: Sukses Ekonomi Berbuah Kematian Dini

Page:
Komentar

Terkini Lainnya

Gaya Keren Ryan Reynold dengan Setelan Ungu...

Gaya Keren Ryan Reynold dengan Setelan Ungu...

Look Good
Orangtua Terkadang Perlu Membiarkan Anak Gagal

Orangtua Terkadang Perlu Membiarkan Anak Gagal

Feel Good
6 Kombinasi Buah yang Baik untuk Sarapan

6 Kombinasi Buah yang Baik untuk Sarapan

Eat Good
Waspadai, Sering Ngantuk di Siang Hari Ancam Kesehatan Otak...

Waspadai, Sering Ngantuk di Siang Hari Ancam Kesehatan Otak...

Feel Good
Tak Perlu Obat Tidur, Ini Cara Mudah Atasi Insomnia

Tak Perlu Obat Tidur, Ini Cara Mudah Atasi Insomnia

Feel Good
Yakin Kulitmu Sehat? Sudah Penuhi 4 Syarat Ini Belum?

Yakin Kulitmu Sehat? Sudah Penuhi 4 Syarat Ini Belum?

Look Good
Gaya Sporty yang Manis dari Charles & Keith

Gaya Sporty yang Manis dari Charles & Keith

Look Good
Kisah Romantis di Balik Tudung Pengantin Meghan Markle

Kisah Romantis di Balik Tudung Pengantin Meghan Markle

Look Good
Air Jordan 1 Ini Dilelang Seharga Rp 743 Juta

Air Jordan 1 Ini Dilelang Seharga Rp 743 Juta

Look Good
Tips Memulai Hobi Sepeda Bagi Perempuan

Tips Memulai Hobi Sepeda Bagi Perempuan

Feel Good
Cara-cara Medis untuk Atasi 'Ngorok' yang Parah

Cara-cara Medis untuk Atasi "Ngorok" yang Parah

Feel Good
Ternyata, Cinta Laura Jarang ke Salon..

Ternyata, Cinta Laura Jarang ke Salon..

Look Good
5 Tahap Menghilangkan Komedo Hitam Di Wajah

5 Tahap Menghilangkan Komedo Hitam Di Wajah

Look Good
Trik Sigi Wimala Tepis Rasa Takut Bersepeda Di Jakarta

Trik Sigi Wimala Tepis Rasa Takut Bersepeda Di Jakarta

Feel Good
Rahasia Cinta Laura Jaga Kulit Fresh Meski Sering Traveling

Rahasia Cinta Laura Jaga Kulit Fresh Meski Sering Traveling

Look Good
Close Ads X