Memastikan Benjolan di Tubuh Gejala Tumor atau Bukan

Kompas.com - 16/09/2018, 11:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik. Penyakit ini menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening atau benjolan.

Menurut Dr.Ronald A.Hukom, Sp.PD, KHOM, pasien limfoma memang paling banyak melaporkan adanya benjolan di bagian leher atau ketiak.

Meski begitu, menurutnya tidak semua benjolan yang muncul merupakan tanda kanker.

"Ada tipe-tipe benjolan yang bisa mengarah ke penyakit serius, misalnya tumbuh cepat atau benjolannya makin besar, bentuknya tidak beraturan, dan biasanya tidak menimbulkan nyeri," kata Ronald di acara peringatan Hari Kanker Limfoma Sedunia yang diadakan Ferron Par Pharmaceuticals serta Cancer Information and Support Center Indonesia di Jakarta, Sabtu (15/9/2018).

Benjolan yang disertai nyeri atau demam, biasanya adalah tanda infeksi dan bukan tumor.

"Karena benjolan tumor tidak menyebabkan keluhan lain, misalnya tumor payudara pada wanita, maka pasien jadi sering datang terlambat untuk berobat," kata Ronald.

Untuk memastikan apakah benjolan di tubuh merupakan gejala kanker atau bukan, diperlukan pemeriksaan lanjutan ke dokter.

"Dokter akan mempertimbangkan apakah itu tumor atau bukan, misalnya dengan pemeriksaan foto, laboratorium, atau bila perlu biopsi," katanya.

Selain benjolan, tanda lain yang perlu diperhatikan antara lain jika berat badan turun tanpa sebab yang jelas, kelelahan, gatal di kulit, atau sering berkeringat di malam hari walau cuaca sejuk.

"Itu merupakan gejala sistemik yang terjadi karena sel-sel limfoma mengeluarkan bahan-bahan yang tidak normal untuk tubuh," paparnya.

Seperti halnya penyakit kanker lain, peluang kesembuhan kanker limfoma juga lebih besar jika ditemukan di stadium satu.

Limfoma disebabkan oleh perubahan sel-sel limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau sehat berfungsi menjaga daya tahan tubuh dan menangkal berbagai jenis infeksi.

Pada kasus limfoma, sel B atau T ini membelah lebih cepat, tak terkontrol, dan hidup lebih lama dari biasanya.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, sekitar 1.000 orang setiap hari di dunia, didiagnosis menderita limfoma.

Sementara di Indonesia, diambil dari data Globocan 2018, sebanyak 35.490 orang didiagnosis limfoma dalam lima tahun terakhir dan 7.565 orang meninggal dunia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X