6 Desainer Tanah Air Bawa Koleksi ke Ajang Busana Muslim Dunia di AS - Kompas.com

6 Desainer Tanah Air Bawa Koleksi ke Ajang Busana Muslim Dunia di AS

Kompas.com - 17/09/2018, 19:14 WIB
Desainer Dian Pelangi dalam konferensi pers keberangkatan enam desainer Indonesia ke Contemporary Muslim Fashions di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/9/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Desainer Dian Pelangi dalam konferensi pers keberangkatan enam desainer Indonesia ke Contemporary Muslim Fashions di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Enam desainer ternama Indonesia terpilih menjadi bagian dari pameran mode muslim pertama dunia yang bertajuk "Contemporary Muslim Fashions".

Sebanyak 53 desainer modest fashion dari sejumlah negara berpartisipasi dalam pameran tersebut.

Enam desainer yang ikut serta itu adalah Dian Pelangi, Itang Yunasz, Rani Hatta, NurZahra, Khanaan, dan IKYK.

"Alhamdulillah pencapaian desainer Indonesia sampai bisa tampil di sini adalah sebuah prestasi."

"Bukan cuma yang berangkat tapi yang punya andil dalam memajukan modest fashion Indonesia."

Hal itu diungkapkan Dian Pelangi dalam konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/9/2018).

Baca juga: Simak, Tutorial Hijab Sederhana Ala Ivan Gunawan

Pameran Contemporary Muslim Fashions berlangsung mulai dari 22 September hingga Januari 2019 di De Young Museum, Fine Arts Museum of San Fransisco, Amerika Serikat.

Tak berhenti di sana, karya para desainer busana modest tersebut kemudian akan kembali digelar di Museum Frankfurt Angewandte Kunst pada 2019.

Salah satu koleksi desainer Itang Yunasz yang akan dibawakan pada Contemporary Muslim Fashions di museum De Young San Fransisco dan Museum Frankfurt Angewandte Kunst. . Salah satu koleksi desainer Itang Yunasz yang akan dibawakan pada Contemporary Muslim Fashions di museum De Young San Fransisco dan Museum Frankfurt Angewandte Kunst.
Para desainer yang telah melalui proses kurasi ketat tersebut memiliki karakteristik busana yang berbeda-beda.

Dian menjelaskan, mereka juga dituntut memiliki karya yang otentik serta memiliki cerita tersendiri di balik karya-karyanya.

"Mereka juga minta history dari busana tersebut untuk ditampilkan dan apa yang paling dikenal dari brand tersebut," tutur dia.

Busana couture hingga streetwear

Enam desainer Indonesia yang berpartisipasi dalam Contemporary Muslim Fashions membawa karakteristik busananya masing-masing.

Dian, misalnya, membawa koleksi dari label barunya "KRAMA" serta dua busana couture yang pernah dibawakannya pada gelaran Torino Modest Fashion Week dan New York Fashion Week 2017.

Baca juga: Tantangan Indonesia Sebagai Barometer Modest Fashion Dunia

"Satu adalah dress songket dari ujung badan ke ujung kaki warna merah, lebih ke couture dari (label) Dian Pelangi Prive, yang kedua juga songket dari label sama," tutur dia.

Desainer lainnya, Itang Yunasz menampilkan tiga koleksi busana bertema "Tribalux Sumba" yang menonjolkan keindahan motif kain tenun Sumba.

Salah satu koleksi desainer Dian Pelangi yang akan dibawakan pada Contemporary Muslim Fashions di museum De Young San Fransisco dan Museum Frankfurt Angewandte Kunst. . Salah satu koleksi desainer Dian Pelangi yang akan dibawakan pada Contemporary Muslim Fashions di museum De Young San Fransisco dan Museum Frankfurt Angewandte Kunst.
Kain Sumba tersebut tak hanya diolah, namun juga dibuat dengan printing dan embroidery sehingga bisa memberikan gambaran tampilan busana muslim.

Warna yang ditonjolkan pada koleksi Itang kali ini di antaranya warna indigo, cokelat kopi, dan marun.

Itang menjelaskan, salah satu koleksinya berupa kaftan yang didesain menjadi lebih kontemporer, outer jacket dengan embroidery dan beading, serta short jacket yang ditampilkan dengan gaya modern.

Baca juga: Penamaan Modest Fashion Marks & Spencer Menuai Protes, Ada Apa?

"Saya mau perlihatkan walaupun kita punya satu gambaran Sumba yang penuh dengan etnik, tapi saya mau tunjukkan ada unsur internasional yang bisa dibawa," ucapnya.

Sementara Khanaan akan menampilkan dua koleksi yang terinspirasi dari motif batik tradisional kawung.

Motif tersebut mengembangkan desain dari motif galaran atau alas tempat tidur yang terbuat dari bambu.

Desain busana Khanaan juga terinspirasi dari pola arsitektur Islam.

"Aku lebih banyak menggunakan batik, batik kontemporer jadi lebih modern," ucap dia.


Terkini Lainnya


Close Ads X