Selamatkan Ulos Tradisional dari Kepunahan...

Kompas.com - 20/09/2018, 10:08 WIB
Devi Pandjaitan, penggagas pameran kain ulos bertajuk Ulos, Hangoluan & Tondi, memberikan hadiah berupa kain ulos tumtuman kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam acara yang digelar di Museum Tekstil, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Ulos Tumtuman adalah ulos tradisional berbahan alami yang menggunakan pewarna alam dari daun-daun di sekitar Danau Toba. KOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTODevi Pandjaitan, penggagas pameran kain ulos bertajuk Ulos, Hangoluan & Tondi, memberikan hadiah berupa kain ulos tumtuman kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam acara yang digelar di Museum Tekstil, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Ulos Tumtuman adalah ulos tradisional berbahan alami yang menggunakan pewarna alam dari daun-daun di sekitar Danau Toba.

"Ini saya ketahui dari perbincangan dengan ibu-ibu yang sudah berusia 70-an tahun di sana. Mereka ingat, yang masih menggunakan pewarna alam adalah ibunya," ungkap Torang.

Baca juga: Demam Tenun Tak Hanya Rambah Pasar Lifestyle, tapi Juga Korporasi

Usaha untuk membangkitkan pembuatan ulos dengan pewarna alam inilah yang sedang dilakukan.

"Mereka terampil menenun, tapi kurang pengetahuan tentang bahan baku. Itu yang kita lakukan saat ini, untuk mendampingi para penenun agar jangan asal pakai benang," kata Torang.

Seniman

Hal senada dituturkan Kerri Na Basaria, perwakilan Tobatenun yang juga ikut menggagas pameran ini. 

"Melestarikan budaya ulos dimulai dengan menempatkan para penenun bukan sebagai pekerja, tapi sebagai seniman. Menaikkan derajatnya," kata Kerri.

"Mereka harus lebih dulu dilepaskan dari belenggu mafia-mafia benang, monopoli. Hingga susah bagi penenun untuk mendapatkan bahan baku."

Dengan gerakan ini, kata Kerri, diharapkan pada saatnya nanti, para penenun hanya akan berkarya tanpa harus mengerutkan dahi dan berpikir lagi tentang bahan baku.

Baca juga: Keindahan Tenun Flores Karya Terpilih Lulusan LaSalle Collage

"Kita lihat, batik, ikat Sumba 'naik' jadi kain Nusantara, kita pun ingin ulos pun 'selevel' lah,"  kata Kerri.

Devi -dalam salah satu bagian kata sambutan di hadapan Menkeu, mengungkapkan niat Yayasan DEL yang menaungi acara tersebut untuk membangun kampung tenun ulos di Sumatera Utara.

Di dalamnya akan ada pendampingan, dan upaya untuk mengangkat kualitas hidup para penenun, serta melepaskan mereka belenggu para tauke yang memerah.

Menurut dia, stigma yang mengidentikan menenun dengan kemiskinan harus lebih dulu dihapus, demi menyelamatkan ulos dari kepunahan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

. Pameran ulos bertajuk "Ulos, Hangoluan & Tondi" digelar di Museum Tekstil, Jakarta, mulai 19 September hingga 7 Oktober 2018. . @kompascom @tobatenun

A post shared by Kompaslifestyle (@kompaslifestyle) on Sep 20, 2018 at 12:28am PDT

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X