Kompas.com - 23/09/2018, 13:02 WIB
. SHUTTERSTOCK.

"Ketika melajang, kita cenderung punya waktu untuk mendalami nilai-nilai dalam hidup kita," kata dia.

Momentum itulah yang digunakan untuk mengevaluasi dan merefleksikan hal-hal yang bisa dipelajari pada hubungan masa lalu.

"Sikap apa yang mau dibangun? Ketika melajang kita punya waktu untuk memikirkan itu dan fokus pada satu faktor konsisten yang akan membuat perubahan dalam diri kita," ujar Winter.

5. Bisa jadi skenario terbaik

Memiliki pasangan tidak selalu jadi pilihan terbaik. Dr. Taitz mencontohkan, jika ada tiga pilihan mana yang akan kita pilih?

Opsi pertama adalah bahagia sebagai lajang. Opsi kedua adalah berada dalam satu hubungan yang tidak bahagia. Sementara opsi lainnya adalah tidak bahagia sebagai lajang.

"Melajang dan bahagia nampak seperti pilihan terbaik bagi seseorang yang mencari cinta namun tak mendapatkannya," ujarnya.

Untuk menjadi seorang lajang yang berbahagia, Dr. Taitz merekomendasikan kita untuk melatih kesadaran diri bahwa banyak kebahagiaan yang bisa diraih dengan menjalani kehidupan saat ini.

Melakukan hal ini juga akan memperkaya aspek hidup seseorang.

Kita bisa menguatkan hubungan pertemanan kita dengan kerabat-kerabat terdekat, bisa memastikan hal-hal yang penting bagi diri kita dan mendesain hari-hari terbaik.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.