Cerita Iwet Ramadhan, dari Benci Olahraga hingga Kecanduan Lari

Kompas.com - 25/09/2018, 12:12 WIB
Presenter radio Iwet Ramadhan ketika ditemui di sebuah acara di kawasan Sudirman, Jakarta. KOMPAS.com/Nabilla TashandraPresenter radio Iwet Ramadhan ketika ditemui di sebuah acara di kawasan Sudirman, Jakarta.
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com – Bisa karena terbiasa. Kalimat tersebut berlaku pula untuk aktivitas olahraga. Penyiar radio Iwet Ramadhan punya pengalaman tersendiri soal hobi lari yang tengah dijalaninya.

Sempat benci dengan pelajaran olahraga ketika duduk di bangku sekolah, Iwet kini justru jatuh cinta dengan olahraga lari. Titik awal Iwet mulai berlari adalah ketika kelompok “Pertemanan Sehat” terbentuk pada 2016 lalu.

“Aku mulai lari pelan-pelan dari enggak bisa sama sekali. Bahkan waktu kecil paling benci sama pelajaran olahraga sampai kemudian ditegur orang: “gemuk banget sekarang”. Berat aku waktu itu 77kg,” tuturnya saat ditemui di kawasan Sudirman beberapa waktu lalu.

Merasa berat badannya saat itu berlebih, Iwet kemudian mulai rutin lari karena menilai olahraga kardio merupakan cara tercepat menurunkan berat badan.

Dari tidak bisa berlari, pria kelahiran Yogyakarta itu lama kelamaan bisa berlari hingga jarak 1kilometer meski masih kerap berhenti di tengah jalan. Ia terus menerus meningkatkan kemampuan larinya hingga mencapai 3 km, 5 km, bahkan kini mengikuti full marathon.

Baca juga: Baru Memulai Olahraga Lari? Ikuti 5 Tahapan Ini

Iwet pun baru saja pulang dari Berlin, Jerman untuk mengikuti Berlin Marathon bersama teman-temannya yang tergabung dalam “Pertemanan Sehat”.

“Sekarang jadi seperti lifestyle dan kayak nagih,” tuturnya.

Lewat lari Iwet merasa lebih seimbang di berbagai bidang, mulai dari kehidupan pribadi hingga pekerjaan. Lari juga membuatnya bisa jauh dari stres.

Itulah mengapa ia selalu berupaya menyempatkan diri untuk berlatih lari di sela kesibukannya. Biasanya, Iwet memilih lari pada waktu istirahat makan siang.

Suntikan hormone endorfin yang didapatkan saat berlari membuatnya kembali semangat kembali melanjutkan hari. Berkantor di kawasan TB Simatupang, Iwet selalu meluangkan waktu untuk lari di sebuah pusat kebugaran di Kemang Village.

“30 menit bisa 5km setelah itu mandi dan balik lagi ke kantor. Jadinya recharge banget,” kata Iwet.

Baca juga: Simak, 5 Hal Wajib Sebelum Ikut Lomba Lari

Bahkan ketika berencana mengikuti acara marathon, Iwet bersama teman-temannya rutin latihan seminggu tiga kali dengan jarak lari minimal 10 km pada setiap sesi latihan.

Rajin berolahraga juga membuatnya menerapkan pola makan sehat. Iwet menuturkan, dirinya selalu berusaha mengkonsumsi nutrisi lengkap sebagai penunjang.

“Karbohidrat, protein, sayur harus kita makan. Aku juga enggak diet, kalau latihan untuk marathon enggak boleh diet,” ucap dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X