Risiko "Down Syndrome" pada Ibu yang Hamil di Usia Matang - Kompas.com

Risiko "Down Syndrome" pada Ibu yang Hamil di Usia Matang

Kompas.com - 29/09/2018, 10:26 WIB
Ilustrasi hamil.Thinkstock Ilustrasi hamil.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada banyak isu kesehatan yang harus dihadapi ibu yang menjalani kehamilan di atas usia 35 tahun.

Menurut dr. Ridwan Mahmudin SpOG, salah satunya adalah risiko melahirkan anak down syndrom (DS) atau kelainan genetik akibat kelebihan kromosom. 

Ridwan menjelaskan, sejak lahir perempuan memiliki 400.000 sel telur yang setiap bulan akan dilepaskan terus sampai menopause. Sayangnya, ketika perempuan sudah mencapai usia 35 ke atas, kualitas sel telurnya terus menurun. 

Hal ini pun berpengaruh pada 23 kromosom yang dikeluarkan—termasuk kromosom 21 di dalamnya yang berkaitan dengan masalah down syndrome. Normalnya, setiap dari kita memiliki 46 kromosom, hasil dari berpasangan kromosom 1 - 23. 

"Nah, pada down syndrome, kromosom 21 harusnya ada dua—ini ada tiga. Jadi kita sebut sebagai trisomy 21. Jumlah kromosom pun jadi 47," ungkap Ridwan dalam acara talkshow di ajang Popmama Expo di Mal Gandaria City Jakarta, (29/9).

Anak yang mengalami DS akan memiliki sejumlah keterbatasan, seperti gangguan penglihatan dan pendengaran, dan perkembangan intelektualnya lebih lambat.

Intervensi

Ridwan mengungkapkan, secara alami, risiko DS tidak bisa dicegah. Ada pun yang bisa dilakukan dokter adalah memantau kehamilan, apakah ada tanda-tanda melahirkan anak down syndrome atau tidak. 

Pemantauan bisa dilakukan dari usia muda kehamilan, 2 - 3 bulan. 

“Kalau down syndrome, ya kita informaskan ke si ibu, kalau ini sekian persen akan terjadi down syndrome, sehingga keluarga mesti persiapkan sesuatu,” ungkap Ridwan.

Cara lain, kata Ridwan, bisa dengan program bayi tabung. Hal ini umum dilakukan jika ada masalah kesulitan hamil. Saat program tersebut, sperma diambil kemudian dibuahkan di luar. 

“Saat pembuahan di luar, kita cek, apakah down syndrome atau tidak—namanya Preimplantation Genetic Diagnosis (PGD). Nah, kalau ada risiko (down syndrome), kita tidak tanam ke ibu,” kata Ridwan.


Terkini Lainnya


Close Ads X