Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/10/2018, 15:12 WIB
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu masalah lingkungan terbesar saat ini adalah sampah plastik. Karena sulit terurai, sampah plastik telah mengotori bumi, bahkan menutupi sebagian permukaan lautan di dunia.

Tidak hanya buruk bagi pemandangan, sampah plastik juga berbahaya bagi hewan-hewan di laut. Banyak cerita bagaimana ikan, penyu, atau mamalia laut tewas karena makan sampah plastik. Binatang-binatang itu sering menyangka plastik sebagai ubur-ubur yang merupakan makanan mereka.

Untuk mencegah kerusakan yang lebih luas, banyak kebijakan dan anjuran dikeluarkan. Misalnya kita dihimbau menggunakan tas yang bisa dipakai berulang-ulang saat belanja, dan tidak lagi memakai tas kresek.

Beberapa perusahaan punya inisiatif untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi barang yang lebih berguna, misalnya hiasan, pakaian, bahkan sepatu.

Walau begitu, tanpa peran serta kita semua, usaha itu tidak akan mencapai hasil yang diharapkan. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Hal paling sederhana adalah mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti telah disebut, misalnya mengganti tas plastik belanja dengan tas yang bisa dipakai berulang, menghindari penggunaan gelas atau botol plastik, dan yang sering tidak kita sadari adalah, mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Sulitkah cara itu? Mungkin ya bagi yang tidak terbiasa. Untunglah beberapa perusahaan yang peduli lingkungan mulai mengganti tas, kemasan, hingga sedotan yang biasa mereka sediakan, dengan bahan lain yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah gerai kopi Starbucks.

PT Sari Coffee Indonesia, pemegang lisensi resmi Starbucks Indonesia, mulai hari ini, Senin (1/10/2018) akan mulai menggunakan material-material “hijau” di seluruh gerainya di Bali.

Langkah yang merupakan bagian program "Starbucks Greener Nusantara" itu akan disusul oleh gerai-gerai lain di seluruh Indonesia.

"Starbucks berkomitmen untuk tak lagi menggunakan sedotan plastik di seluruh gerai tahun 2020. Kami ingin memastikan bahwa Starbucks Indonesia juga memastikan komitmen ini terwujud tepat waktu,” ungkap Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia.

Pengganti ramah lingkungan

Sedotan dan pengaduk Starbucks yang tidak lagi terbuat dari plastikKompas.com/Wisnubrata Sedotan dan pengaduk Starbucks yang tidak lagi terbuat dari plastik
Penggunaan sedotan plastik sekali pakai akan diganti dengan sedotan berbahan dasar kertas yang aman digunakan. Kantong plastik akan diganti dengan bio-cassava bag yang terbuat dari singkong yang mudah terurai, sedangkan sendok, garpu, dan pisau akan menggunakan bahan dari pati jagung sebagai sumber yang terbaharui, polylactic acid (PLA).

Sementara itu, pengaduk kopi dari plastik akan diganti dengan bahan kayu, dan semua gelas plastik yang digunakan untuk minuman dingin akan diganti dengan gelas daur ulang dengan komponen yang berbahan recycled poly-ethylene terephthalate (rPET).

“Bali adalah area dengan jumlah kedai Starbucks terbanyak setelah Jabodetabek, dan ini menjadikannya lokasi yang sesuai untuk peluncuran aksi besar Starbucks Indonesia sebelum nantinya akan kami luncurkan dalam skala nasional,” kata Andrea Siahaan, Senior GM PR & Communications.

Starbucks Indonesia sendiri telah lama berinovasi dalam menciptakan kemasan yang lebih baik dimulai dengan tas kertas khasnya yang unik sejak diluncurkan tahun 2002.

Inisiatif besar lainnya termasuk program “Bring Your Own Tumbler” (BYOT) yang telah dan terus dilakukan pada tanggal 22 setiap bulannya – program yang mendorong para konsumen menggunakan lebih sedikit cangkir plastik dan kertas.

Melalui program BYOT sendiri tahun lalu, ada lebih dari 1,9 juta transaksi menggunakan tumbler yang dapat digunakan kembali. Ini membuat dampak yang signifikan pada pengurangan limbah.

Nah kelak jika kamu mendatangi gerai Starbucks, jangan lagi meminta sedotan plastik ya. Pilih sedotan, gelas, atau pengaduk yang lebih ramah lingkungan demi Bumi kita.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.