Kompas.com - 02/10/2018, 05:05 WIB
|
Editor Wisnubrata

 

Ada pula Alleira Batik yang baru saja berkolaborasi dengan desainer asal Malaysia, Michael Ong untuk menampilkan koleksi pakaian batik dengan tema “Batik Now”.

Koleksi tersebut memiliki desain yang muda dan santai karena terinspirasi dari street wear, sport wear dan casual wear. Motif batik dituangkan dalam busana bersiluet longgar, seperti jaket dan baju tangan panjang.

Hasilnya, penggabungan batik tradisional dan gaya milenial dalam koleksi busana tersebut membuat kita semua terkagum.

Selain itu, ada juga Bateeq yang dengan tegas menyebut labelnya konsisten menargetkan pasar anak muda. Konsistensi tersebut diawali dari ketidaksukaan CEO Bateeq Michelle Tjokrosaputro terhadap batik. Michelle dulu menilai bahwa batik terkesan tua dan tidak modis.

Tanpa meninggalkan filosofi batik, Bateeq mengemasnya menjadi busana dengan potongan yang edgy, berani dan kekinian. Seperti setelan celana, jaket atau ponco.

Masa depan batik

Coat yang menjadi salah satu koleksi kolaborasi batik Mel Ahyar x Iwan Tirta Private Collection.Instagram @melahyarofficial Coat yang menjadi salah satu koleksi kolaborasi batik Mel Ahyar x Iwan Tirta Private Collection.
Melestarikan batik adalah tugas kita semua sebagai masyarakat Indonesia. Kontribusi terkecil, misalnya dengan mengenakan pakaian batik, sudah menjadi bagian dari usaha melestarikan batik.

“Dengan semua memakai itu sudah satu cara atau usaha untuk melestarikan batik. Kan kalau tidak dibeli untuk apa orang membuat? Batik dalam bentuk apapun, itu kan style-nya saja.”

Hal itu diungkapkan desainer Denny Wirawan ketika ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018). Denny juga mengolah kain batik Kudus sebagai koleksi busana dan sempat membawanya ke sejumlah agenda mode internasional.

Menurutnya, masyarakat Indonesia perlu berbangga dengan perkembangan batik dari waktu ke waktu. Mulai dari batik yang dulunya terkesan eksklusif bagi kalangan kerajaan, kemudian menjadi busana yang cenderung formal, hingga kini menjadi lebih memasyarakat.

Dengan semakin cairnya batasan-batasan tersebut, maka batik dianggap punya peluang besar untuk lebih terangkat pada skala global.

“Di beberapa daerah mungkin masih ada motif batik yang disakralkan, tapi secara umum sudah tidak ada. Untuk saya, itu suatu kemajuan,” kata Denny.

“Karena batik sebagai warisan budaya, kalau ada terus batasan seperti itu maka akan sulit memajukan atau mengangkat warisan budaya kita.”

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.